Advertisement

Kongo Hadapi Virus Corona di Tengah Wabah Ebola

Kongo Hadapi Virus Corona di Tengah Wabah Ebola
Suara.com
Editor: Malda Hot News —Selasa, 2 Juni 2020 08:19 WIB

Terasjabar.id -- Kongo telah memerangi wabah Ebola yang menewaskan ribuan orang selama lebih dari 18 bulan. Kini, Kongo juga harus menghadapi wabah baru, virus corona.

Ebola telah membuat warga yang tinggal di timur negara itu letih dan ketakutan. Mereka harus menghadapi kemunculan wabah baru, yang membuat kewaspadaan menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Virus corona telah membuat kewalahan sistem rumah sakit terbaik dunia di Eropa dan menghancurkan di New York. Di Kongo, virus corona akan lebih berbahaya karena bisa menyebar tanpa diketahui. Hal itu karena sistem kesehatan yang rentan dan persiapan pemerintah yang sangat tidak dapat diandalkan.

"Semuanya terasa seperti satu badai besar," kata penggerak komunitas Kongo yang bekerja dengan kelompok bantuan World Vision di Beni, Martine Milonde.

Milonde menyatakan, kehadiran virus corona menjadi krisis yang berada di dalam krisis bagi Kongo. Masyarakat dibuat menderita dengan hantaman Ebola, dan sekarang mereka harus menghadapi Covid-19, virus corona jenis baru.

Pada awal Maret, seorang pasien Ebola terakhir dinyatakan sembuh dan telah meninggalkan perawatan. Kabar baik itu menjadi angin segar, tetapi itu tidak bertahan lama. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 10 April mengumumkan kasus baru di Beni dan dua orang meninggal dunia setelah itu. Wabah ebola telah merenggut lebih dari 2.260 jiwa sejak Agustus 2018, Jumlah itu menjadi terbesar kedua di dunia yang pernah terjadi, setelah wabah 2014-2016 di Afrika Barat.

Meski kekhawatiran dua gelombang wabah membuat hantaman besar yang sulit dibendung, ada sedikit harapan. Banyak alat yang digunakan untuk melawan Ebola, seperti anjuran mencuci tangan dan jarak sosial juga merupakan kunci untuk memerangi virus corona.

Kota Beni yang telah melaporkan dua kasus virus corona baru berharap bisa menahan penyebaran dengan kebiasaan yang sudah dibangun karena Ebola. Warga sudah menerapkan praktik kehati-hatian, kewaspadaan, dan kebersihan untuk memastikan kesehatan.

"Masyarakat di sini memiliki harapan bahwa mereka akan mengatasi pandemi ini dengan cara mereka bekerja untuk mengatasi ebola," kata Milonde.

Pembimbing masyarakat di Beni yang berkeliling dengan megafon untuk sosialisasi Ebola sudah mulai memasukkan peringatan tentang virus corona dalam orasi. Pesan yang disampaikan pun dilanjutkan dengan memanfaatkan stasiun radio, pesan teks, dan oleh para pemimpin agama.

Wali Kota Beni, Nyonyi Bwanakawa, mengatakan, banyak dari langkah-langkah itu memang sudah familiar. Hanya saja, rekomendasi untuk tinggal di rumah lebih diperketat daripada saat masa ebola menyebar.

Dengan kebiasaan yang sudah terbangun dari pencegahan ebola, tugas pemerintah memperkuat pengendalian penyebaran virus. Pemerintah hanya memiliki pengawasan terbatas di bagian-bagian negara yang luas.

Pemerintah berhadapan dengan beberapa pusat populasi padat dengan sanitasi dan infrastruktur yang buruk. Sedangkan di bagian timur negara yang kaya mineral sedang dilanda kekerasan dari berbagai kelompok bersenjata.

Manajer program untuk tanggap darurat WHO Afrika, Michel Yao, mengatakan, pemerintah harus menerapkan pengujian yang kuat dan pelacakan kontak. Namun, melibatkan masyarakat dalam memerangi penyakit itu mungkin lebih penting.

"Tapi memberi mereka tanggung jawab dan peran untuk dimainkan," ujar Yao.

Yao memperingatkan penyebaran di ibu kota Kinshasa dengan penduduk 14 juta jiwa hidup berdesakan. "Jika mencapai tempat ini, itu akan menjadi bencana besar," katanya.

Kementerian Kesehatan Kongo mengatakan, hanya ada sekitar 65 ventilator dan 20 tambahan sedang dipesan untuk negara dengan lebih dari 80 juta penduduk. Saat ini terdapat 215 kasus virus corona terkonfirmasi di Kongo dengan 20 kematian. (Republika)

Virus Corona Ebola WHO Kongo meninggal Dunia


Related Post



Loading...