Pembeli surat utang itu bisa siapa saja. Bisa perorangan, bisa perusahaan, bisa broker keuangan, bisa BUMN Tiongkok.
Pembeli bond Panda akan dapat bunga antara 4,5 persen sampai 5,5 persen. Dalam yuan. Lebih besar daripada mereka menyimpan uang yuan di deposito bank.
Besarnya bunga belum diumumkan. Biasanya menunggu dulu suara-suara di rakyat Tiongkok: bunga berapa yang bisa membuat mereka tertarik membeli Bond Panda. Lalu pemerintah Indonesia memutuskan dan mengumumkannya. Kalau bunganya terlalu rendah dikhawatirkan surat utang negara itu tidak laku: Indonesia malu –kesannya, cari utangan pun sudah tidak mampu.
Dijualnya bond dalam bentuk yuan ini sekaligus pertanda Indonesia berniat mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika. Akhirnya Indonesia menyadari hanya Tiongkok yang masih punya banyak uang.
Punya tetangga kaya tetap saja lebih baik daripada punya tetangga miskin –meski banyak yang senang melihat tetangga lebih menderita.
Sebelum ini Indonesia pernah mencari pinjaman ke pasar Tiongkok dalam bentuk yuan. Waktu itu diberi nama bond Dim Sum. Nilainya kecil: enam miliar yuan. Sekitar Rp14 triliun. Bisakah diartikan dengan diberi nama Panda nilai utang yang diharapkan jauh lebih besar? Mestinya begitu. Dim sum hanyalah camilan untuk Panda.
Bond Panda sudah lama dikenal di Tiongkok. Sejak tahun 2016. Polandia-lah negara pertama yang menerbitkan bond Panda di Tiongkok. Lalu Hongaria dan Mesir.
Yang akan antre bersama Indonesia adalah Pakistan, Brasil, dan banyak lainnya.
Itu menandakan bahwa pasar uang di Tiongkok sudah mulai diincar dunia.
Maka Anda tidak perlu kecil hati. Bukan hanya Anda yang sibuk cari utang ke siapa lagi: negara pun tidak kalah pusing mencari pinjaman baru dari sumber yang baru.
Satu lagi tesis yang saya tunggu kebenarannya: tesis ketua OJK yang baru, Friderica Widyasari Dewi. Setelah diterima presiden itu dia bilang: merosotnya harga saham belakangan hanyalah ”demamnya pasca operasi”. Demam jangka pendek. Setelah demamnya hilang justru akan kian sehat.
Masuk akal juga yang dikatakan Kiky –sapaan Friderica Wisyasari Dewi. Otoritas Jasa Keuangan memang baru saja selesai melalukan koreksi besar. Yakni agar kelemahan-kelemahan pasar modal diperbaiki. Kelemahan itulah yang membuat rating internasional kita turun. Pasar modal kita dianggap kurang terbuka.
Masih ada bagian-bagian tertentu yang harus lebih dibuka lagi. Misalnya siapa pemegang saham di bawah lima persen di satu perusahaan publik. Kadang yang lima persen itu justru menentukan. Lalu siapa penerima manfaat terakhir sebuah perusahaan publik. Kadang nama besar itu tidak muncul di jajaran pemegang saham, komisaris, apalagi direksi. Tapi orang itu bisa punya kuasa mengendalikan dari luar.
Semua ”tuntutan” lembaga internasional itu dipenuhi OJK. Dibenahi. Dalam proses pembenahan itulah terjadilah ”gangguan”. Yang sudah lama menikmati enaknya main di ruang yang remang-remang kini blingsatan: ruang remang itu tiba-tiba diberi lampu terang.
Setelah semuanya mulai terbiasa main di arena yang terang keadaan akan normal kembali. Tidak ada lagi perselingkuhan di ruang remang.
Tesis Kiky itu menarik. Tinggal kita tunggu kenyataannya.
Kasihan. Tekanan untuk tim ekonomi pemerintah luar biasa besarnya. Mereka pasti kurang tidur. Tapi, saya lihat, lima-limanya tampak sehat –hanya Menkeu Purbaya yang terlihat lebih banyak kurang tidur. (Dahlan Iskan)
















