TERASJABAR.ID – Sejumlah mantan pejabat kesehatan Amerika Serikat dan pakar penyakit menular mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membatalkan rencana pembangunan pusat karantina serta perawatan Ebola di Kenya.
Di saat yang sama, serikat pekerja di lingkungan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) meminta agar warga negara Amerika yang terpapar Ebola dipulangkan untuk mendapatkan perawatan medis.
Kontroversi muncul setelah pemerintah AS mengumumkan rencana pembangunan rumah sakit lapangan di Kenya sebagai lokasi karantina dan perawatan bagi warga Amerika yang terinfeksi Ebola.
Meskipun pengadilan tinggi Kenya sempat memblokir kebijakan tersebut, pemerintah kedua negara tetap melanjutkan proyek tersebut.
Tim penanganan awal dari AS bahkan dilaporkan telah tiba di Pangkalan Udara Laikipia.
Sejumlah mantan pejabat CDC menyampaikan keberatan melalui surat kepada Kongres.
Mereka menilai kebijakan tersebut menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari aspek etika, hukum, operasional hingga keselamatan pasien.
Mantan pejabat CDC, Daniel Jernigan, mengatakan rencana tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip yang selama ini menjadi dasar penanganan wabah Ebola.
AS diketahui tengah membangun fasilitas berkapasitas 50 tempat tidur yang akan dilengkapi akses obat-obatan serta dukungan pernapasan dasar.
Namun, pasien yang membutuhkan perawatan lebih lanjut disebut akan dirujuk ke rumah sakit di Eropa.
Kritik terhadap Kebijakan Karantina di Kenya
Presiden serikat pekerja AFGE Local 2883, Yolanda Jacobs, menilai kebijakan itu mengabaikan keselamatan para petugas CDC yang terlibat dalam penanganan wabah.
Ia menyebut langkah tersebut berbeda jauh dengan pendekatan yang diterapkan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.
Pemerintah AS juga belum memberikan kejelasan mengenai apakah fasilitas tersebut dapat digunakan oleh warga Kenya atau tenaga kesehatan non-Amerika yang terlibat dalam penanganan Ebola.
Selain itu, belum dipastikan apakah seluruh warga AS yang bertugas di wilayah wabah diwajibkan menjalani karantina di Kenya.
Pakar penyakit menular Ronald Nahass menilai Amerika Serikat sebenarnya memiliki fasilitas isolasi dan perawatan penyakit menular yang jauh lebih memadai.
Menurutnya, warga Amerika yang berisiko tinggi terpapar Ebola dapat dikarantina dan dirawat dengan aman di dalam negeri.
Ia juga menegaskan bahwa pembatasan perjalanan dan larangan masuk bukanlah cara paling efektif untuk mencegah penyebaran penyakit menular.
Sebaliknya, penguatan sistem kesehatan masyarakat, pemantauan kontak, serta kesiapan fasilitas kesehatan dinilai lebih efektif dalam menghadapi ancaman wabah.
Para ahli turut menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menangani wabah Ebola.
Mereka mengingatkan bahwa penanganan penyakit menular berskala global membutuhkan koordinasi lintas negara dan dukungan lembaga internasional agar upaya pengendalian wabah dapat berjalan optimal.-***









