TERASJABAR.ID – Di tengah dinamika ekonomi nasional yang terus bergerak, Industri Jasa Keuangan di wilayah Tasikmalaya tetap berdiri kokoh. Otoritas Jasa Keuangan OJK Tasikmalaya memastikan kondisi sektor keuangan hingga Maret 2026 masih terjaga stabil dan tumbuh positif
Kabar baik datang dari sektor perbankan Priangan Timur. Data OJK menunjukkan aset perbankan naik 3,78 persen secara tahunan menjadi Rp3,27 triliun. Dana Pihak Ketiga DPK juga ikut terdongkrak 6,91 persen menjadi Rp2,37 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh 1,89 persen menjadi Rp1,06 triliun.
Angka-angka ini menandakan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan lancar. Kredit disalurkan, dana masyarakat terserap, dan roda ekonomi terus berputar, ” ujar Kepada OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, Jum’at (22/5/2026)
Yang lebih penting menurut dia, tingkat kredit macet Non Performing Loan masih terkendali di batas aman. Jadi meski ekonomi bergerak cepat, bank tidak gegabah melepas dana.
Kata dia, Yang paling mencuri perhatian adalah lonjakan kredit investasi. Posnya naik tajam 14,96 persen secara tahunan. Ini sinyal kuat bahwa pelaku usaha mulai berani ekspansi lagi. Optimisme pengusaha bangkit seiring pertumbuhan ekonomi awal 2026 yang relatif terjaga.
Kredit konsumsi juga naik 5,35 persen, mencerminkan daya beli masyarakat yang mulai pulih. Namun di sisi lain, kredit modal kerja justru terkontraksi 7,41 persen. OJK menilai kontraksi ini lebih banyak dipengaruhi pola bisnis pelaku usaha yang mulai menyesuaikan strategi pembiayaan jangka pendek.
Lonjakan kredit investasi terjadi karena permintaan pembiayaan jangka panjang meningkat. Pengusaha di Jawa Barat, khususnya Priangan Timur, mulai mengalokasikan dana untuk pengadaan barang modal dan pengembangan kapasitas usaha. Ini jadi indikator positif bahwa pelaku usaha tidak hanya bertahan, tapi siap naik kelas.
Ia menambahkan kalau dilihat dari sektor ekonomi, penyaluran kredit terbesar masih mengalir ke sektor rumah tangga dengan porsi 44,67 persen. Disusul pedagang besar dan eceran 23,71 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 6,17 persen, sementara industri pengolahan mendapat 5,85 persen. Pola ini menunjukkan ekonomi Priangan Timur masih bertumpu pada konsumsi domestik dan perdagangan.
Di sektor pembiayaan mikro, Kredit Usaha Rakyat KUR juga menunjukkan kinerja impresif. Total penyaluran KUR di Priangan Timur mencapai Rp9,43 triliun dengan 11.670 debitur, ” ungkap Nofa.
Seperti halnya di Kabupaten Garut menjadi juara dengan penyaluran terbesar Rp541 miliar untuk 9.759 debitur. Disusul Kabupaten Tasikmalaya Rp430 miliar untuk 8.097 debitur, Sumedang Rp324 miliar untuk 5.883 debitur, dan Ciamis Rp321 miliar untuk 5.684 debitur. Kota Tasikmalaya menyalurkan Rp202 miliar untuk 2.756 debitur, Pangandaran Rp94 miliar untuk 1.840 debitur, dan Kota Banjar Rp43 miliar untuk 711 debitur.
Data ini menegaskan bahwa UMKM di Priangan Timur masih jadi tulang punggung ekonomi lokal. Akses pembiayaan yang terbuka membuat usaha kecil bisa bertahan dan berkembang meski tekanan ekonomi masih terasa.
OJK Tasikmalaya menilai stabilitas ini tidak datang dengan sendirinya. Koordinasi antara perbankan, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menjadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan.
Dengan kondisi yang tetap terjaga, OJK berharap perbankan bisa lebih berani menyalurkan kredit produktif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Karena di balik angka-angka itu, ada ribuan pelaku usaha dan rumah tangga yang menggantungkan harapan pada roda ekonomi.
“pungkasnya.(KRIS)















