TERASJABAR.ID – Otoritas Jasa Keuangan melontarkan sinyal tegas. Di tengah gempuran tekanan ekonomi global yang semakin ganas, Sektor Jasa Keuangan Indonesia tetap berdiri kokoh. Hal itu di sampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Mei 2026, Jumat 5 Juni 2026.
Pernyataan Friderica muncul saat dunia masih dililit konflik geopolitik Timur Tengah yang tak kunjung padam. Harga energi meroket, inflasi global merayap naik, dan ekspektasi suku bunga tinggi dalam durasi lebih lama kembali menghantui pasar. Efeknya langsung terasa pada kenaikan yield obligasi pemerintah berbagai negara.
Namun Indonesia memilih jalur berbeda. Alih-alih ikut terguncang, sektor jasa keuangan domestik justru menampilkan kinerja solid. Intermediasi keuangan tumbuh positif, solvabilitas berada di level tinggi, dan pasar modal memperlihatkan daya tahan luar biasa.
Likuiditas pasar modal tetap terjaga. Rata-rata bid ask spread pada Mei 2026 berada di level rendah 1,50 persen. Angka ini menjadi bukti bahwa transaksi berjalan lancar meski sentimen global sedang bergejolak. Investor domestik juga makin percaya diri. Sepanjang Mei 2026, pasar modal mencatat tambahan 1,26 juta investor baru. Total investor kini mencapai 27,75 juta, tumbuh 36,27 persen secara tahun berjalan.
Arus modal asing memang mencatat net sell sebesar Rp4,10 triliun di pasar saham pada periode yang sama. Tetapi tekanan itu tak mampu menggeser momentum pasar domestik yang terus menguat. Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index ditutup menguat 0,32 persen ke level 437,26. Yield Surat Berharga Negara naik rata-rata 5,61 basis poin, dipengaruhi persepsi risiko global. Kenaikan yield ini masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu fungsi pasar sebagai sumber pembiayaan.
Bukti nyata ketahanan itu terlihat dari kinerja fundraising korporasi. Hingga akhir Mei 2026, nilai penggalangan dana di pasar modal mencapai Rp68,18 triliun. Antusiasme emiten juga tinggi. Saat ini terdapat 75 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp56,93 triliun. Jalur pembiayaan alternatif melalui Securities Crowdfunding pun tumbuh cepat dan telah menghimpun dana Rp1,94 triliun.
Friderica menegaskan, stabilitas ini bukan kebetulan. OJK bersama Self Regulatory Organization terus melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan pasar, khususnya pasca rebalancing MSCI dan FTSE Russell pada Mei 2026. Koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan diperkuat agar perdagangan, manajemen risiko, dan penyelesaian transaksi tetap berjalan mulus.
Kebijakan stabilisasi pasar yang saat ini berlaku dinilai masih relevan dan efektif. OJK berkomitmen menjaga kredibilitas pasar modal sebagai pilar pembiayaan ekonomi nasional. Dengan fondasi yang kuat, sektor jasa keuangan siap menghadapi tekanan eksternal dan tetap menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah badai global yang belum mereda.(KRIS)














