TERASJABAR.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam kepada Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial, Araghchi menuding Washington lebih memilih langkah militer dibanding jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung.
Pernyataan tersebut menjadi komentar resmi pertamanya setelah Iran dan AS saling melancarkan serangan di Selat Hormuz.
Kedua negara sebelumnya juga saling menuduh telah melanggar gencatan senjata yang disebut berlangsung selama satu bulan terakhir.
Araghchi menyebut tindakan militer AS sebagai bentuk “petualangan gegabah” yang justru merusak peluang penyelesaian damai.
Ia mempertanyakan apakah langkah Washington merupakan strategi tekanan politik atau akibat pengaruh pihak lain yang dinilai menyeret Presiden Donald Trump ke konflik baru di kawasan Timur Tengah.
Menurut Araghchi, rakyat Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan asing dan diplomasi selalu menjadi pihak yang dirugikan setiap kali eskalasi militer terjadi.
Ia juga membantah laporan intelijen AS yang dikutip The Washington Post terkait kapasitas persenjataan Iran.
Laporan itu menyebut Iran masih memiliki sekitar 75 persen peluncur bergerak dan 70 persen stok rudal sebelum perang.
Namun Araghchi menegaskan kapasitas rudal Iran justru berada di angka 120 persen, sementara kesiapan negaranya untuk mempertahankan rakyat disebut mencapai “1.000 persen”.-***

















