TERASJABAR.ID – Dalam beberapa tahun terakhir pascawabah Covid-19, kondisi jurnalis televisi -maupun radio- di daerah, atau lebih dikenal dengan istilah kontributor, berada pada titik nadir terendah. Terlebih ketika perusahaan tempatnya bekerja mengamputasi kantor biro dan bahkan menghilangkan program berita lokal.
“Kita harus jujur, kalau jurnalis TV daerah hanya menunggu industri kembali seperti dulu, itu hampir pasti tidak akan terjadi. Perubahan ke digital itu bukan tren, tapi pergeseran permanen. Jadi kuncinya bukan bertahan di sistem lama, tapi bertransformasi jadi jurnalis digital mandiri,” usul Komisioner KPID Jabar, Dadan Hendaya, S.S.,M.M., kepada para jurnalis televisi yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) maupun jurnalis radio asal PRRSNI.
Hal itu dikemukakannya usai memberikan materi pada Peningkatan Kapasitas SDM Penyiaran, di Tasikmalaya, Rabu (22/4/2026). “Di era digital, jurnalis tidak lagi harus terikat kantor biro. Bahkan riset menunjukkan pola kerja jurnalis kini bisa mandiri dan berbasis platform digital. Artinya, jurnalis harus menjadi brand pribadi, dengan berita sebagai produk kontennya, yang disebarkan melalui audiens yang dibangun sendiri,” kata mantan produser MNC Media ini.
“Saya sependapat dengan usulan Prof. Dadang Rahmat pada diskusi barusan, bahwa hubungan jurnalis dengan perusahaan media jangan lagi berupa relasi pekerja-pemilik, melainkan dibangun kesetaraan atau mitra. Jurnalis menyiapkan konten yang baik, perusahaan media ‘membeli’ konten itu,” jelas Dadan.
Untuk itu, lanjutnya, tak ada kata lain bagi para jurnalis selain meningkatkan kapasitas diri. Jurnalis sekarang harus bisa kerja sendiri dengan HP. Ia yang melakukan shooting video, mengedit secara cepat dan langsung upload langsung ke platform. Hal ini penting, karena industri menuntut efisiensi, satu orang bisa multi-peran, dari mulai sebagai reporter, cameraman, editor dan bahkan analis yang menjelaskan isi konten.
“Jurnalis digital tidak cukup hanya menulis, minimal harus bisa bikin video pendek, reels untuk IG, TikTok atau YouTube Shorts. Ia juga harus bisa foto jurnalistik dan membuat infografis sederhana. Karena saat ini berita dikemas dalam berbagai format digital, bukan hanya teks atau siaran TV. Lebih jauh lagi, kuasai cara kerja algoritma medsos. Jurnalis perlu riset keyword, membuat judul yang searchable dan struktur tulisan digital. Ini adalah skill baru yang tidak ada di jurnalisme TV konvensional,” tuturnya.
“Jadi, kawan-kawan, masalah jurnalis hari ini bukan sekadar krisis industri. Tapi, ini adalah krisis adaptasi. Yang mau berubah, dia akan punya masa depan. Yang bertahan di comfort zone seraya bermimpi industri akan kembali seperti dulu, dia akan tergilas zaman. Perubahan dan adaptasi adalah keniscayaan,” tandas mantan wartawan Pikiran Rakyat ini.*









