Karena itulah kalender Hijriah sesungguhnya bukan hanya penanggalan. Ia adalah pengingat tahunan bahwa setiap Muslim harus terus berhijrah. Berhijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik. Berhijrah dari kemalasan menuju produktivitas. Berhijrah dari perpecahan menuju persatuan. Dan berhijrah dari sekadar menjadi penonton menuju pelaku perubahan.
Sayangnya, dalam kehidupan modern, kalender Hijriah semakin jarang hadir dalam keseharian umat Islam. Kita menggunakannya saat menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Setelah itu, kalender Hijriah kembali tersimpan hingga datang momen keagamaan berikutnya.
Akibatnya, banyak generasi Muslim yang mengenal sejarah dunia melalui kalender Masehi, tetapi kurang mengenal sejarah peradabannya sendiri. Padahal selama berabad-abad, kalender Hijriah menjadi penanda perjalanan para ulama, ilmuwan, pedagang, dan pemimpin Muslim dalam membangun salah satu peradaban terbesar dalam sejarah manusia.
Tentu kita tidak sedang mengajak meninggalkan kalender Masehi. Dunia modern membutuhkan sistem yang seragam, dan kalender Masehi telah menjadi standar internasional. Namun mengenal kalender Hijriah adalah cara sederhana untuk tetap terhubung dengan akar sejarah dan identitas kita sebagai umat Islam.
Sebab sebuah umat yang melupakan sejarahnya lambat laun akan kehilangan jati dirinya. Dan umat yang kehilangan jati dirinya akan kesulitan menentukan arah masa depannya.
Mungkin itulah alasan mengapa Umar bin Khattab memilih hijrah sebagai awal kalender Islam. Beliau ingin agar setiap kali umat Islam melihat angka tahun Hijriah, mereka tidak sekadar menghitung usia. Mereka diajak untuk merenung, mengevaluasi diri, dan bertanya: sudah sejauh mana perubahan yang telah dilakukan dalam hidupnya?
Maka ketika 1 Muharram kembali datang, yang perlu kita rayakan bukan sekadar pergantian tahun. Yang lebih penting adalah semangat hijrah yang terkandung di dalamnya. Semangat untuk terus memperbaiki diri, memperkuat umat, dan membangun masa depan yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, kalender Hijriah bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah jejak sejarah, identitas umat, dan pengingat bahwa setiap perubahan besar selalu diawali oleh keberanian untuk berhijrah.
“Umar bin Khattab tidak memilih kelahiran Nabi sebagai awal kalender Islam. Beliau memilih hijrah. Sebab sejarah besar tidak dimulai ketika seseorang lahir, tetapi ketika ia berani membawa perubahan.”***










