(Kalender Hijriah Bukan Sekadar Tanggal, Tetapi Identitas Umat dan Jejak Sejarah)
Oleh : Subchan Daragana .
Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrei
“Kalender Hijriah bukan sekadar hitungan waktu. Ia adalah jejak perjalanan sebuah peradaban, pengingat sejarah umat, dan penanda identitas yang tidak boleh hilang dari kehidupan kaum Muslimin.”
Setiap pergantian tahun Masehi, dunia seolah berhenti sejenak. Televisi menayangkan hitung mundur, media sosial dipenuhi ucapan selamat tahun baru, dan banyak orang membuat resolusi untuk tahun yang akan datang. Namun ketika 1 Muharram tiba, suasananya jauh berbeda. Tidak sedikit umat Islam yang bahkan tidak menyadari bahwa tahun baru Islam telah datang.
Ironisnya, kita begitu hafal kapan 1 Januari, tetapi sering lupa kapan 1 Muharram. Padahal Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Pertanyaannya, mengapa kita begitu akrab dengan kalender Masehi, tetapi terasa asing dengan kalender Hijriah?
Barangkali karena selama ini kita menganggap kalender hanyalah alat untuk menghitung hari. Padahal dalam sejarah peradaban manusia, kalender tidak pernah sesederhana itu. Kalender adalah identitas. Kalender adalah cara sebuah bangsa memahami waktu, mengenang sejarah, dan membangun kesadaran kolektif tentang siapa mereka.
Bangsa Romawi memiliki kalendernya. Bangsa Tiongkok memiliki kalendernya. Bangsa Yahudi memiliki kalendernya. Demikian pula umat Islam memiliki kalender Hijriah. Karena itu, ketika berbicara tentang kalender Hijriah, sesungguhnya kita tidak sedang berbicara tentang angka dan tanggal semata. Kita sedang berbicara tentang identitas dan perjalanan panjang sebuah peradaban.
Menariknya, kalender Hijriah tidak lahir pada masa Rasulullah SAW. Kalender ini baru ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Saat wilayah Islam berkembang semakin luas, kebutuhan administrasi pemerintahan menjadi semakin kompleks. Surat-menyurat dan berbagai keputusan negara memerlukan penanggalan yang jelas agar tidak menimbulkan kebingungan.
Ketika itulah Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan awal kalender umat Islam. Beberapa usulan muncul. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan tahun diangkatnya beliau sebagai Rasul, bahkan ada yang mengusulkan tahun wafat beliau.
Namun Umar memilih sesuatu yang berbeda. Beliau memilih peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal kalender Islam.
Pilihan tersebut mengandung makna yang sangat dalam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah titik balik sejarah Islam. Dari sebuah komunitas kecil yang tertindas di Makkah, Islam tumbuh menjadi masyarakat yang kuat, teratur, dan berperadaban di Madinah. Hijrah adalah simbol perubahan, keberanian, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Dengan memilih hijrah sebagai awal kalender, Umar bin Khattab seakan ingin menyampaikan pesan kepada generasi setelahnya bahwa identitas umat Islam dibangun di atas semangat perubahan. Bukan semata-mata mengenang masa lalu, tetapi terus bergerak menuju keadaan yang lebih baik.










