“Industri yang berorientasi ekspor tetap mampu tumbuh di tengah tantangan global. Ini menunjukkan sektor manufaktur nasional memiliki daya tahan dan kemampuan adaptasi yang baik. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar pada bulan Mei ini juga ikut meningkatkan ekspor produk manufaktur,” tambah Febri.
Ia juga menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Mei 2026 memang memberikan tekanan bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Namun di sisi lain, kondisi tersebut berdampak pada pergeseran konsumsi masyarakat ke produk dalam negeri.
“Pelemahan kurs rupiah memang berdampak terhadap industri yang menggunakan bahan baku impor. Akan tetapi, kondisi ini juga membuat masyarakat cenderung memilih produk dalam negeri dibandingkan produk impor yang mengalami kenaikan harga. Ini menjadi peluang bagi industri manufaktur nasional untuk memperkuat pasar domestik,” tuturnya.
Kinerja positif IKI juga sejalan dengan capaian pertumbuhan Industri Pengolahan Nonmigas pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,14 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,31 persen.
Selain itu, sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor utama ekspor nasional dengan nilai ekspor mencapai US$54,98 miliar atau berkontribusi sebesar 82,25 persen terhadap total ekspor nasional sepanjang triwulan I 2026.
“Kami optimistis sektor manufaktur tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Pasar domestik terutama konsumsi rumah tangga dan kebutuhan pemerintah tetap menjadi tumpuan industri untuk meningkatkan kemampuan industri memproduksi produk berdaya saing di pasar domestik dan global. Pemerintah akan terus menjaga iklim usaha yang kondusif agar industri nasional semakin kompetitif dan mampu memperkuat struktur ekonomi Indonesia,” pungkas Febri.***
Sumber: Siaran Pers Kemenperin

















