Hal ini tercermin pada variabel produksi dalam IKI Mei 2026 yang mengalami kenaikan tertinggi sebesar 3,86 poin menjadi 55,20 dan merupakan level tertinggi sejak Januari 2025.
Selain itu, variabel pesanan juga meningkat menjadi 53,47. Selanjutnya, pada variabel persediaan mencapai 51,33. Seluruh variabel pembentuk IKI tercatat berada dalam fase ekspansi.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 20 subsektor mengalami ekspansi dan memberikan kontribusi sebesar 97,8 persen terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas triwulan I 2026. Subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Mei 2026 adalah Industri Pakaian Jadi serta Industri Kertas dan Barang dari Kertas.
Kemenperin juga mencatat, baik industri yang berorientasi ekspor maupun pasar domestik sama-sama mengalami peningkatan optimisme pada Mei 2026.
IKI yang berorientasi pasar ekspor tercatat sebesar 53,73 atau meningkat 1,45 poin dibandingkan April 2026 sebesar 52,28. Sementara itu, IKI yang berorientasi pasar domestik naik lebih tinggi, yakni sebesar 2,56 poin menjadi 53,46 dari sebelumnya 50,90 pada April 2026.
Menurut Febri, kenaikan IKI domestik yang lebih tinggi menunjukkan pasar dalam negeri masih menjadi penopang utama ketahanan industri manufaktur nasional di tengah tekanan global.
“Pasar domestik masih menjadi kekuatan utama industri manufaktur Indonesia dalam menghadapi tekanan akibat gejolak ketidakpastian global. Daya beli masyarakat yang tetap terjaga membuat permintaan produk dalam negeri meningkat sehingga aktivitas produksi industri juga ikut meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, peningkatan IKI berorientasi ekspor menunjukkan bahwa produk manufaktur Indonesia masih memiliki daya saing di pasar global meskipun menghadapi tantangan pelemahan ekonomi dunia dan fluktuasi nilai tukar.

















