Kondisi ini berpotensi melemahkan kemampuan analisis dan penilaian etis jika tidak diimbangi dengan kesadaran penggunaan.
Oleh karena itu, menurutnya talenta digital harus tetap mampu mengevaluasi setiap output AI secara kritis.
Kemampuan berpikir dan mengambil keputusan tidak boleh sepenuhnya dialihkan ke mesin.
Di sisi lain, Wamen Nezar Patria mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab persoalan nyata di sektor strategis seperti pangan, energi, kesehatan, dan maritim.
Pendekatan berbasis masalah dinilai penting agar teknologi memberi dampak langsung bagi masyarakat.
“Ambisi strategis diperlukan agar kita tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah nyata di sektor-sektor prioritas,” ujarnya.
Workshop AI Talent Factory 2 diikuti 98 mahasiswa dan 28 dosen dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Program ini diarahkan untuk membentuk talenta yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan dampak pemanfaatan AI.***
Sumber: Siaran Pers Kemkomdigi


















