Sudah begitu, ada pula kebijakan aneh: orang miskin kini terancam bayar BPJS tiap bulan, tapi kalau sakit, penyakit tertentu tak ditanggung. Kecelakaan berat? Pasien cuci darah dan lainnya berjuang sendiri.
Di Iran, konon, seluruh penyakit ditanggung. Kurap, panu, sampai pikun—yang belakangan ini sering diidap oleh bekas pemimpin—semua diobati. Pemimpin Iran tidak membiarkan rakyatnya mati kurus di atas tanah yang gersang. Keteladanan adalah kunci. Pemimpin Iran tidak “omon-omon”—tidak sekadar berjanji muluk-muluk di depan mikrofon.
Ketika berjanji memberlakukan UU perampasan aset, itu diberlakukan. Saat janji lapangan kerja, itu tersedia, bahkan berlebih. Mereka tidak sibuk menjadi herois dengan ingin memberi asupan gizi seluruh anak Indonesia, dengan mengeruk lebih dalam APBN, tapi anehnya kebijakan yang baru setengah jalan itu hampir tiap hari dikomplain rakyatnya sendiri.
Pemimpin Iran tidak perlu itu, yang mereka pikirkan adalah rakyat, kesejahteraan rakyat, dan kedaularan rakyat. Di sini, kita tertegun. Mengapa di tanah yang kerontang, terbentang luas gurun dan padang pasir, keadilan bisa tumbuh rindang? Sementara di tanah yang hijau royo-royo, keadilan hanya menjadi barang dagangan jelang pemilihan?
Iran mengajarkan kita, bahwa kecintaan tulus rakyat tidak bisa dibeli dengan pencitraan sesaat, melainkan dengan kepastian jawaban yang berimbas pada kehidupan nyata. Bahwa pemimpin sejati bukan yang paling nyaring suaranya, melainkan yang paling pertama hadir saat rakyatnya butuh air, butuh cahaya, dan butuh harapan.
Mungkin, kisah Iran adalah sebuah cermin retak bagi kita. Apakah kita akan terus memuji cermin yang pecah, atau berani menuntut wajah pemimpin yang benar-benar memanusiakan manusia? Dan, sudahkah kita benar-benar mecintai pemimpin Konoha?? Wallahu’alam. (Aguk Irawan MN)
















