Aji mengibaratkan peran strategis humas pemerintah layaknya “ikan sapu-sapu” di ekosistem digital.
“Kami berharap seluruh praktisi humas pemerintah dapat menyatukan persepsi dan langkah menjadi garda terdepan menangkal hoaks. Ibaratnya, rekan-rekan Humas bisa menjadi ‘ikan sapu-sapu’ untuk membersihkan hoaks kesehatan di masyarakat, serta mengamplifikasi pesan positif secara masif,” ungkap Aji.
Menyambung urgensi tersebut, Direktur Kemitraan Komunikasi Lembaga dan Kehumasan dan Digital, Maroli J. Indarto, mengingatkan bahwa fenomena infodemic menyebabkan hoaks menyebar lebih cepat daripada fakta medis.
Meskipun cakupan imunisasi lengkap anak usia 12–23 bulan pada 2025 telah mencapai 76,9 persen, rantai komunikasi di akar rumput masih memerlukan perbaikan.
“Humas harus mampu menerjemahkan bahasa medis yang kaku menjadi narasi humanis yang menyentuh. Dengan lebih dari 10.330 Pranata Humas se-Indonesia, termasuk ratusan di antaranya di Kemenkes, ini merupakan kekuatan besar yang efektif untuk melakukan counter-narasi apabila digerakkan secara serempak,” tegasnya.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sesi diskusi panel bersama Direktur Imunisasi dr. Indri Yogaswari, Pakar Big Data Ismail Fahmi, dan influencer kesehatan dr. Mohamad Hildan (@dr.aliphildan). Membahas mengenai Situasi Imunisasi di Indonesia, Sinergi Humas Pemerintah, hingga Analisis Sosial Media Listening Anti Vaksin.
Melalui sinergi lintas instansi ini, sesama humas pemerintah diharapkan dapat proaktif melakukan prebunking—mengedukasi masyarakat agar mengenali, menghentikan, dan melaporkan hoaks, khususnya hoaks imunisasi—demi memastikan hak kesehatan setiap anak Indonesia terlindungi secara merata.***
Sumber: Rilis Kemenkes

















