TERASJABAR.ID – Komunitas Pecinta Sungai Cimanuk Cisanggaru bersama Kelompok Tani dan Komunitas Cai Mulang Jaya berhasil menghidupkan kembali warisan budaya Desa Kedungsari, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka. Salah satu peninggalan sejarah yang kini kembali dibuka adalah Wisata Budaya Jamban Tujuh yang terletak di sepanjang aliran Sungai Sindupraja.
Jamban Tujuh dulunya merupakan tempat utama warga setempat untuk membersihkan diri, mulai dari mandi hingga sekadar mencuci muka atau sekadar berkunjung. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini perlahan mulai punah dan terlupakan. Untuk mengembalikan kembali kebiasaan baik serta nilai budaya tersebut, para penggagas menyusun rencana pemulihan yang diawali dengan pembangunan gapura pintu masuk.
Peresmian gapura Jamban Tujuh dilakukan secara resmi pada hari Minggu, 29 Juni 2026. Acara ini dipimpin Sekretaris Kecamatan Ligung, Muhidin, yang mewakili Camat Ligung, dan didampingi langsung oleh Kepala Desa Kedungsari, Eka Rasmika. Penandatanganan peresmian ditandai dengan simbolis pemotongan pita sebagai tanda dibukanya kembali akses menuju lokasi tersebut.
Keberadaan gapura ini memiliki filosofi yang dalam. Sebagai pintu masuk, gapura melambangkan pertemuan antara warga dalam maupun luar desa untuk saling berinteraksi dan berbagi kebaikan. Sementara itu, istilah “Jamban” sendiri memiliki makna tersirat, yaitu gabungan dari kata Jam dan Ban, yang berarti kita harus selalu memanfaatkan waktu yang terus berputar dengan hal-hal yang bermanfaat dan bernilai baik.
Menurut Kepala Desa Kedungsari, Eka Rasmika, pembukaan Jamban Tujuh bukan sekadar mengembalikan tempat lama, melainkan bentuk komitmen untuk menjaga kelestarian adat dan budaya desa. “Kami akan terus mendorong pelestarian budaya ini dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Nantinya, gapura serupa juga akan dibangun di setiap akses menuju Jamban Cai Mulang lainnya agar Desa Kedungsari semakin tertata dan menarik bagi wisatawan,” ujarnya.
Sementara itu, Karnadi selaku Ketua Kelompok Tani Komunitas Pencinta Sungai Cai Mulang yang menjadi penggagas utama, menyampaikan harapannya. Dengan telah diresmikannya Jamban Tujuh, ia berharap tradisi adat setempat dapat terus lestari dan menjadi ikon Desa Kedungsari serta salah satu tujuan wisata budaya unggulan di pinggiran sungai.
Selain menyimpan nilai sejarah, kawasan ini kini juga telah dikembangkan menjadi tempat wisata yang lengkap. Tersedia berbagai pilihan tempat wisata lainnya seperti Agrowisata Hidroponik yang menanam sayuran, buah-buahan, serta aneka bunga tanpa menggunakan pupuk kimia, hingga budidaya ikan air tawar langsung dari sungai. Semua ini menjadikan kawasan pinggir Sungai Sindupraja tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga mempersembahkan kearifan lokal yang patut dilestarikan.(*)
















