Oleh: Sulaiman Siregar
Di negeri yang gemar berbicara tentang kemajuan, masih ada seorang ibu hamil yang harus ditandu sejauh 30 kilometer demi mendapatkan pertolongan medis.
Namanya Tuti Daulay. Ia bukan tokoh besar, bukan pejabat, bukan orang yang suaranya mudah sampai ke pusat kekuasaan. Ia hanya seorang ibu dari Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut—sebuah tempat yang indah secara alam, tetapi menyakitkan dalam kenyataan.
Di sana, jalan bukan sekadar rusak. Jalan adalah ujian hidup. Dan ketika kontraksi datang, negara justru tidak ada di tempat.
Video siaran langsung yang diunggah Samsul Bahri Sihombing di Facebook pada 9 Mei 2026 menjadi saksi yang tak bisa dibantah.
Dalam video itu terlihat kaum ibu dan bapak memikul tandu sederhana dari batang kayu, berjalan menembus tanjakan curam, lumpur pekat, dan jalan berbatu.
Mereka bergantian mengangkat tubuh Tuti Daulay yang sedang berjuang antara hidup dan maut.
Samsul, yang ikut menandu sekaligus merekam, berkata dengan suara yang lebih jujur dari pidato pejabat mana pun:
“Beginilah jalan kami. Ini bukan bohong-bohong. Ini bukan sekadar postingan cari uang di Facebook. Ini kenyataan.” Kalimat itu pendek, tetapi menampar.
Perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Sipirok memakan waktu sekitar enam jam. Mereka berangkat sore hari dan baru tiba sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.
Dokter berhasil menyelamatkan Tuti. Namun bayi yang dikandungnya tidak tertolong. Yang meninggal bukan hanya seorang bayi. Yang ikut mati adalah rasa malu pemerintah.
Kita sering mendengar slogan: Indonesia Maju. Tetapi maju untuk siapa? Sebab di Aek Nabara, listrik PLN belum masuk. Puskesmas tidak ada. Poskesdes tidak ada. Bidan tidak ada. Jalan layak pun tidak ada. Yang ada hanyalah gotong royong warga dan kesabaran yang dipaksa menjadi kebiasaan.
Ironisnya, setiap musim politik datang, jalan menuju dusun-dusun seperti ini mendadak ramai oleh mobil para pencari suara. Janji ditabur seperti pupuk.











