TERASJABAR.ID – Obat inovatif yang dirancang untuk mencegah sel kanker bersembunyi dari sistem kekebalan tubuh menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji klinis tahap awal.
Terapi ini mampu mengecilkan tumor pada sejumlah pasien yang menderita enam jenis kanker umum dan sebelumnya tidak lagi merespons pengobatan.
Meski imunoterapi telah membawa kemajuan besar dalam penanganan kanker, efektivitasnya sering kali menurun ketika sel tumor berhasil menghindari deteksi sistem imun.
Untuk mengatasi masalah tersebut, para ilmuwan mengembangkan obat eksperimental bernama GRWD5769 yang bekerja dengan membuat sel kanker kembali terlihat oleh pertahanan alami tubuh.
Dalam studi yang dilakukan di Inggris, Prancis, Spanyol, dan Australia, sebanyak 83 pasien dengan kanker serviks, kandung kemih, hati, usus, paru-paru, serta kepala dan leher menerima kombinasi GRWD5769 dan imunoterapi cemiplimab.
Seluruh peserta merupakan pasien yang tidak lagi memperoleh manfaat dari terapi sebelumnya dan memiliki pilihan pengobatan yang sangat terbatas.
Hasil penelitian menunjukkan tumor menyusut pada 26 pasien, sementara 15 di antaranya mengalami pengurangan ukuran tumor setidaknya 30 persen.
Selain itu, obat tersebut mampu memperlambat perkembangan penyakit selama enam bulan atau lebih pada berbagai jenis kanker yang diteliti.
GRWD5769 bekerja dengan menghambat enzim ERAP1, yang selama ini dimanfaatkan sel kanker untuk menghindari pengawasan sel T, komponen utama sistem kekebalan tubuh.
Dengan menghambat enzim tersebut, “selubung tak terlihat” kanker dapat dihilangkan sehingga sel T lebih mudah mengenali dan menyerang tumor.
Temuan yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology (ASCO) di Chicago ini dinilai sangat menjanjikan.
Peneliti utama, Prof. Fiona Thistlethwaite dari Christie NHS Foundation Trust, menyebut hasil awal tersebut mengesankan karena obat berbentuk tablet itu menunjukkan efektivitas pada berbagai jenis kanker dengan efek samping yang relatif ringan.
“Imunoterapi telah mengubah cara kita mengobati kanker, tetapi jumlah orang yang dapat memperoleh manfaat masih relatif rendah. Yang membuat saya bersemangat tentang uji klinis ini adalah kombinasi dari apa yang kita lihat, sinyal kemanjuran yang kuat di enam jenis tumor yang telah menunjukkan resistensi besar terhadap imunoterapi, dengan efek samping yang sangat sedikit. Itu tidak biasa pada tahap awal seperti ini, ketika biasanya kita hanya melihat seberapa amannya,” kata Thistlethwaite, seperti ditulis The Guardian pada 1 Juni 2026.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal.
Uji klinis yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan keamanan, efektivitas jangka panjang, dan manfaat nyata obat tersebut bagi pasien kanker.
Namun, hasil awal ini membuka harapan baru untuk meningkatkan keberhasilan imunoterapi, terutama bagi pasien yang sebelumnya mengalami kegagalan pengobatan.-***












