Dari sektor usaha, Anton Supit mengkritik maraknya inkompetensi dari para
pengambil kebijakan. “Inkompetensi itu lebih bahaya daripada kejahatan,” tandas Anton.
Sinyalemen tersebut diperkuat oleh riset dari Indonesian Business Council (IBC) yang mengungkapkan adanya empat aspek defisit dalam perekonomian Indonesia sekarang. Yakni, jobs deficit, investment deficit, fiscal
deficit,hingga trust deficit.
“Penyebabnya adalah 3 C. Yaitu: ketiadaan certainty (rule of law) dan capability untuk menggerakkan dunia usaha, serta berkurangnya capital,” lanjut Anton.
Di bidang kesehatan sosial, Diah Satyani Saminarsih menjelaskan, kondisi
masyarakat marjinal kian terhimpit oleh kebijakan yang dianggap over simplifikatif.
Sementara itu, Shofwan Al-Banna menyoroti kebijakan luar negeri yang impulsif dan egois.
“Akarnya terletak pada keterlibatan kita yang amat tinggi tanpa diikuti institusionalisasi yang baik; tidak hanya personalisasi, tapi egoisasi,” papar Shofwan.
Aktivis asal Yogyakarta, Untoro Hariadi mengingatkan satu hal. Republik ini
seperti sedang mengeksklusi publik. Partai politik berubah menjadi ruangtransaksi ketimbang partisipasi.
Untoro menawarkan penguatan masyarakat sipil agar menjadi pilar kokoh yang berdaya tawar tinggi dalam proses bernegara.
Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin sangat mengapresiasi keberanian masyarakat sipil yang tetap konsisten berbakti kepada bangsa kendati harus menghadapi banyak risiko.
Bagi gereja, kehadiran Forum Lintas-Generasi ini anugerah Tuhan yang menambah kekuatan untuk terus
berdiri sebagai komunitas pengharapan.
“Kehadiran Anda-Anda ini seperti memberi kami multivitamin, yang meneguhkan
dan menguatkan kami untuk menjadi komunitas pengharapan. Kami merasa
diajak untuk memikirkan dan menyuarakan kebenaran lebih lantang lagi,” ungkapnya.
Senada dengan Mgr. Antonius, Kardinal Suharyo mengungkapkan, kekagumannya terhadap perjuangan delegasi yang dilandasi oleh cinta Tanah Air dan juga iman yang mendalam kepada Tuhan.










