TERASJABAR.ID – Jared Isaacman berada di Washington DC dengan harapan merayakan bersama anggota Kongres dan presiden AS, tak lama setelah keberhasilan misi manusia mengelilingi bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun.
Namun kenyataannya berbeda. Pekan tersebut justru diwarnai pertanyaan kritis di Kongres terkait rencana Donald Trump yang ingin memangkas anggaran NASA.
Situasi makin canggung ketika di Gedung Putih, Trump melontarkan komentar yang dinilai tidak pantas, sementara para astronaut misi Artemis II menunggu perhatian terhadap pencapaian mereka.
Kondisi ini mencerminkan bagaimana kebijakan Trump dinilai mengurangi makna pencapaian besar NASA.
Ia mendorong eksplorasi bulan, tetapi di sisi lain ingin memangkas anggaran, khususnya di bidang sains, yang diduga terkait sikapnya terhadap riset iklim.
Meski demikian, usulan pemotongan anggaran sebesar 23% untuk tahun 2027 mendapat penolakan luas.
Subkomite DPR justru mengajukan anggaran lebih besar guna mempertahankan program sains.
Di Senat, dukungan serupa juga muncul, dengan penegasan bahwa tanpa sains, eksplorasi ruang angkasa tidak mungkin berjalan.
Tokoh seperti Bill Nye turut mengkritik rencana tersebut.
Ia menilai pemotongan anggaran justru tidak efisien dan menghambat kemajuan.
Nye juga menegaskan bahwa eksplorasi robotik sangat penting sebelum misi manusia dilakukan.
Para ahli sepakat bahwa ambisi menuju Mars akan sulit tercapai jika anggaran terus dipangkas.
Mereka menilai NASA membutuhkan dukungan stabil agar tetap memimpin dalam sains dan eksplorasi antariksa di tengah persaingan global, termasuk dengan China.-***











