Andri menambahkan bahwa efektivitas peringatan dini sangat bergantung pada tindak lanjut di tingkat hilir melalui kesiapsiagaan dan kapasitas respons yang melibatkan BNPB, BPBD, Basarnas, pemerintah daerah, serta kementerian dan lembaga terkait.
Diseminasi informasi juga memerlukan peran seluruh pemangku kepentingan agar peringatan dini dapat diterima dan dipahami masyarakat secara luas.
“Peringatan dini dapat menyelamatkan nyawa dan harta benda jika seluruh komponen sistem peringatan dini bekerja bersama dan saling melengkapi,” tegas Andri.
Ia juga menegaskan bahwa BMKG berada pada peran hulu dalam rantai sistem peringatan dini, yakni melaksanakan pemantauan, analisis, dan penyampaian peringatan dini terhadap potensi cuaca dan iklim ekstrem, gempabumi, serta tsunami, sekaligus mendiseminasikan informasi tersebut kepada masyarakat dan pemangku kepentingan di daerah.
“Golden time bencana hidrometeorologi sebenarnya cukup panjang, mulai dari tujuh hari, tiga hari, hingga hitungan jam sebelum kejadian. Kuncinya ada pada kesiapsiagaan, pemetaan risiko, dan langkah kontingensi yang jelas di daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko menilai bahwa sistem peringatan dini BMKG telah berjalan dengan baik, namun masih perlu diperkuat melalui peningkatan literasi kebencanaan dan kesadaran pemerintah daerah.
Ia juga mendorong integrasi edukasi cuaca dan kebencanaan sejak dini melalui dunia pendidikan.
“Semua pihak harus bergerak. Edukasi bisa dimulai sejak tingkat dasar. BMKG dengan Sekolah Lapang-nya memiliki peran strategis, dan pemerintah daerah juga perlu menyadari bahwa informasi cuaca sangat penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan,” tuturnya.
Menutup kegiatan tersebut, BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk terus memantau informasi resmi cuaca dan iklim, khususnya pada periode puncak musim hujan yang masih berlangsung pada Februari 2026.
Sinergi dan kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak bencana hidrometeorologi di tengah perubahan iklim yang semakin nyata.***
















