TERASJABAR.ID – Berat badan ideal tidak selalu menjadi penanda mutlak bahwa seseorang berada dalam kondisi sehat.
Meski kelebihan berat badan atau obesitas memang diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit seperti jantung, stroke, dan diabetes, faktanya gangguan kesehatan tersebut juga dapat dialami oleh orang dengan berat badan normal.
Selama ini, berat badan ideal sering dinilai menggunakan indeks massa tubuh (IMT) atau body mass index (BMI).
Namun, IMT memiliki keterbatasan karena hanya membandingkan berat dan tinggi badan tanpa memperhitungkan komposisi lemak tubuh.
Akibatnya, seseorang dengan massa otot tinggi, seperti atlet atau binaragawan, bisa memiliki IMT tinggi meski kadar lemaknya rendah.
Sebaliknya, orang yang tampak kurus bisa saja menyimpan lemak tubuh berlebih, terutama lemak viseral yang berada di sekitar organ dalam.
Kondisi ini dikenal sebagai skinny fat atau TOFI (thin outside, fat inside).
Lemak viseral berlebih berbahaya karena berperan dalam meningkatnya risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, stroke, kanker, hingga Alzheimer.
Berat badan yang benar-benar sehat adalah ketika IMT berada di kisaran normal dan persentase lemak tubuh tidak berlebihan.
Idealnya, kadar lemak tubuh pada wanita berkisar 25–30 persen, sedangkan pada pria sekitar 18–25 persen.
Persentase ini dapat diketahui melalui pemeriksaan khusus, seperti pengukuran lemak tubuh atau konsultasi dengan dokter gizi.
Untuk menjaga berat badan dan komposisi tubuh yang sehat, terapkan pola hidup seimbang dengan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, membatasi gula dan lemak jenuh, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.-***
















