Lebih lanjut, Syarifuddin menegaskan BAZNAS tidak dapat berjalan sendiri dalam mengembangkan program pemberdayaan santri. Oleh karena itu, BAZNAS terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku industri fesyen.
“BAZNAS merupakan lembaga intermediary yang mendorong zakat menjadi lebih produktif. Karena itu, kami menggandeng mitra dan pelaku usaha yang kompeten agar program ini berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi mustahik,” katanya.
Sementara itu, Direktur Pendayagunaan dan Layanan UPZ CSR BAZNAS RI Eka Budhi Sulistyo, S.Pt., M.A.P., mengatakan program Santripreneur telah melahirkan ribuan startup entrepreneur dari kalangan santri di berbagai daerah melalui sejumlah klaster usaha.
Eka menjelaskan, dalam pelaksanaannya para peserta akan melalui proses seleksi bertahap. Sebanyak 100 peserta terbaik akan kembali diseleksi untuk mengikuti tahap lanjutan, sebelum akhirnya dipilih 50 peserta terbaik untuk mengikuti bootcamp dan memperoleh pendampingan usaha.
“Peserta terbaik nantinya tidak hanya mendapatkan penghargaan, tetapi juga modal usaha serta pendampingan selama minimal enam bulan agar usaha yang dijalankan dapat berkembang secara berkelanjutan,” jelasnya.***
Sumber: Siaran Pers BAZNAS

















