Namun, menurut dia, justru nilai tersebut menjadi kekuatan strategis dalam kepemimpinan modern. “Pemimpin yang peduli sosial biasanya lebih dipercaya,” katanya.
Sejalan dengan itu, Buchari menambahkan, pemimpin ideal adalah sosok yang mampu membangun karier tanpa kehilangan nurani, serta menjadikan nilai kemanusiaan sebagai fondasi keberhasilan.
Ia juga menekankan, pengalaman hidup, termasuk pernah menghadapi kesulitan, dapat membentuk karakter kepemimpinan yang kuat dan berempati.
“Orang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Apalagi jika kita adalah penerima beasiswa, terlebih yang pernah terdampak bencana. Ketika seseorang yang dulu pernah kesulitan kemudian mendapat bantuan, misalnya dari ParagonCorp melalui BAZNAS, lalu ia menjadi seorang leader, maka ia akan sangat memahami nilai-nilai sosial tersebut,” jelasnya.
Menurut Buchari, pengalaman tersebut dapat mendorong seseorang untuk tetap menjaga kepedulian sosial ketika berada dalam posisi kepemimpinan.
“Dengan demikian, pemimpin yang lahir dari proses tersebut diharapkan tidak hanya berhasil secara pribadi, tetapi juga memberi manfaat luas bagi masyarakat,” ucapnya.***
Sumber: Siaran Pers BAZNAS
















