“
Oleh : Subchan Daragana
Di banyak rumah, orang tua sering resah melihat anaknya berubah. Anak mulai membantah, mudah marah, terlalu dekat dengan gawai, kurang disiplin, sulit diajak bicara, atau tampak jauh dari nilai-nilai yang diajarkan. Lalu berbagai cara ditempuh: memanggil guru les, menambah aturan, membatasi gadget, bahkan memberi hukuman. Namun ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: jangan-jangan masalah utama bukan pada anak, tetapi pada suasana rumah tempat ia tumbuh.
Anak adalah makhluk yang belajar paling cepat dari contoh. Mereka tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi membaca ekspresi, meniru kebiasaan, dan menyerap emosi yang beredar setiap hari di rumah. Ketika ayah dan ibu sering bertengkar, anak belajar bahwa konflik adalah cara berkomunikasi. Ketika orang tua saling menghormati, anak belajar adab tanpa perlu ceramah panjang. Ketika rumah penuh bentakan, anak belajar keras. Ketika rumah penuh ketenangan, anak belajar damai.
Karena itu, anak sering kali menjadi cermin orang tuanya.
Banyak orang tua ingin anak jujur, tetapi mereka terbiasa berbohong kecil di depan anak. Ingin anak sopan, tetapi saling merendahkan pasangan. Ingin anak disiplin, tetapi rumah tidak punya aturan yang konsisten. Ingin anak dekat dengan agama, tetapi anak jarang melihat orang tuanya shalat dengan tenang, membaca Al-Qur’an, atau berdoa bersama.
Di sinilah letak kekeliruan yang sering terjadi: orang tua fokus memperbaiki perilaku anak, tetapi lupa memperbaiki budaya rumah. Padahal kualitas pengasuhan sangat ditentukan oleh kualitas hubungan suami istri. Ayah dan ibu yang saling bermusuhan akan sulit melahirkan pengasuhan yang sehat. Mengapa? Karena energi habis untuk konflik, bukan untuk membangun anak. Komunikasi dipenuhi ketersinggungan, bukan strategi pendidikan. Rumah menjadi arena saling menyalahkan, bukan tempat bertumbuh.
Sebaliknya, ketika hubungan suami istri sehat, anak mendapatkan hadiah yang sangat mahal: rasa aman. Anak tahu rumah adalah tempat pulang. Ia melihat dua orang dewasa bisa berbeda pendapat tanpa saling merendahkan. Ia menyaksikan kerja sama, empati, dan kasih sayang dalam bentuk nyata. Semua itu membentuk karakter anak jauh lebih kuat daripada ribuan nasihat.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang terus belajar dan berusaha kompak.
Kekompakan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Misalnya, ayah dan ibu sepakat soal aturan gawai. Sepakat soal waktu tidur. Sepakat soal adab berbicara. Sepakat tentang pentingnya ibadah. Ketika rumah memiliki arah yang sama, anak tidak bingung membaca batasan. Ia tumbuh dalam struktur yang sehat.
Namun bila ayah melarang dan ibu diam-diam membolehkan, atau ibu menegur lalu ayah membatalkan di depan anak, maka anak belajar satu hal berbahaya: aturan bisa dipecah dengan memainkan konflik orang tua.













