TERASJABAR.ID – Susu kedelai atau susu soya sering dimanfaatkan sebagai pilihan alternatif untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.
Meski memiliki kandungan gizi yang cukup baik, pemberiannya tidak boleh sembarangan dan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan Si Kecil.
Dalam satu gelas susu soya tanpa pemanis (sekitar 250 ml) terkandung protein, lemak, karbohidrat, serta kalori yang cukup untuk menunjang kebutuhan energi.
Minuman ini juga mengandung kalium, vitamin A, dan isoflavon, serta bebas kolesterol karena berasal dari tumbuhan.
Namun demikian, susu soya bukanlah pengganti utama ASI.
Air susu ibu tetap menjadi sumber nutrisi terbaik, terutama bagi bayi usia 0–6 bulan dan dianjurkan hingga usia 2 tahun.
Susu soya umumnya direkomendasikan bila bayi memiliki kondisi medis tertentu.
Pada kasus alergi susu sapi, misalnya, susu soya bisa menjadi alternatif karena tidak mengandung protein pemicu alergi.
Meski begitu, sebagian anak dengan alergi susu sapi juga berpotensi alergi terhadap kedelai, sehingga konsultasi dokter sangat dianjurkan.
Bayi dengan intoleransi laktosa juga dapat mengonsumsi susu soya karena tidak mengandung laktosa.
Selain itu, pada kondisi langka seperti galaktosemia, susu soya menjadi pilihan aman karena bebas galaktosa.
Jika ingin memberikannya, pilih susu berbahan isolat protein soya yang diformulasikan khusus untuk bayi serta diperkaya vitamin dan mineral penting, seperti vitamin A, D, omega-3, kalsium, dan vitamin B12.
Sebelum memutuskan, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan dokter anak agar kebutuhan nutrisi bayi tetap terpenuhi dengan optimal.-*
















