TERASJABAR.ID – Di media sosial, semakin banyak influencer yang mempromosikan metode “pembersihan parasit” atau parasite cleanse sebagai solusi untuk berbagai keluhan kesehatan, mulai dari sembelit, kelelahan, gangguan tidur, hingga sulit berkonsentrasi.
Produk yang ditawarkan umumnya mengandung bahan-bahan alami seperti apsintus, cengkeh, kunyit, timi, dan kenari hitam.
Namun, para ahli menegaskan bahwa infeksi parasit sebenarnya tergolong jarang terjadi pada orang sehat yang tinggal di kota-kota modern dengan sistem sanitasi yang baik.
Profesor Aaron Jex dari Walter and Eliza Hall Institute of Medical Research mengatakan banyak orang datang dengan keyakinan bahwa mereka mengalami infeksi parasit kronis yang tidak terdiagnosis.
Mereka mengeluhkan gangguan pencernaan hingga sensasi seperti cacing bergerak di bawah kulit atau di area mata.
Meski memahami kekhawatiran pasien, Jex menjelaskan bahwa gejala tersebut sering kali lebih berkaitan dengan kondisi lain, seperti gangguan autoimun, peradangan, atau faktor pola makan.
Menurutnya, metode diagnosis infeksi parasit saat ini sudah sangat maju sehingga infeksi yang cukup parah untuk menimbulkan gejala umumnya dapat terdeteksi.
Terkait produk pembersih parasit, Jex menjelaskan bahwa meskipun beberapa obat antiparasit modern berasal dari bahan alami, senyawa tersebut harus melalui proses pemurnian, konsentrasi, dan pengujian agar efektif digunakan sebagai terapi.
Karena itu, mengonsumsi bahan alami dalam bentuk suplemen belum tentu memberikan efek yang sama.
Sementara itu, ahli gizi Danielle Shine mengingatkan bahwa produk detoks atau pembersihan parasit tidak selalu aman.
Beberapa di antaranya dapat memicu diare, dehidrasi, gangguan elektrolit, iritasi saluran pencernaan, hingga berinteraksi dengan obat-obatan tertentu.
Bahkan, dalam kasus yang jarang terjadi, suplemen herbal dapat menyebabkan kerusakan hati serius.
Shine juga menepis klaim yang kerap beredar di media sosial bahwa parasit dapat dikenali hanya dari tampilan tinja.
Menurutnya, lendir, sisa makanan yang tidak tercerna, maupun material alami dari usus sering kali keliru dianggap sebagai parasit.
Para ahli menegaskan bahwa diagnosis infeksi parasit harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian khusus dan melalui pemeriksaan medis yang tepat.-***

















