TERASJABAR.ID – Keratosis seboroik merupakan salah satu jenis tumor kulit jinak yang cukup sering ditemukan, terutama pada orang berusia di atas 50 tahun.
Kondisi ini terjadi akibat peningkatan jumlah sel kulit pada lapisan paling luar kulit sehingga membentuk benjolan atau bercak yang menonjol di permukaan.
Keratosis seboroik lebih banyak ditemukan pada ras Asia dan dapat muncul di berbagai bagian tubuh, terutama area yang sering terpapar sinar matahari seperti wajah, leher, dada, dan punggung.
Penyebab pasti keratosis seboroik belum diketahui secara jelas, namun beberapa faktor yang diduga terjadi dalam kemunculannya.
Faktor genetik atau keturunan menjadi salah satu penyebab yang paling sering dikaitkan dengan kondisi ini.
Selain itu, paparan sinar matahari dalam jangka panjang, proses penuaan, serta kemungkinan keterkaitan dengan infeksi virus juga dianggap dapat meningkatkan risiko terjadinya keratosis seboroik.
Secara klinis, keratosis seboroik biasanya tampak sebagai benjolan atau plak berwarna cokelat hingga kehitaman yang umumnya tidak menimbulkan rasa sakit maupun gatal.
Hal itu dapat muncul dalam jumlah banyak dan sering kali mengganggu penampilan karena berada di area tubuh yang mudah terlihat.
Meski demikian, pada beberapa kasus, penderita dapat mengalami keluhan berupa gatal, iritasi, atau kemerahan di sekitar lesi.
Penanganan keratosis seboroik dapat dilakukan melalui tindakan bedah maupun non-bedah.
Metode yang paling sering digunakan adalah bedah listrik atau elektrokauter.
Selain itu, tersedia pilihan lain seperti laser CO2 dan bedah beku.
Alternatifnya, terapi non-bedah menggunakan bahan kimia seperti trichloroacetic acid (TCA) atau larutan hidrogen peroksida juga dapat dipertimbangkan sesuai kondisi pasien.-***















