TERASJABAR.ID – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) kemungkinan telah mulai menyebar sejak Januari 2026, jauh sebelum kasus pertama teridentifikasi secara resmi.
Kondisi tersebut dinilai memberi keuntungan besar bagi virus untuk menyebar lebih luas sebelum upaya penanganan dilakukan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa respons terhadap wabah ini menghadapi berbagai hambatan, mulai dari pembatasan perjalanan, rendahnya tingkat pelacakan kontak, hingga tingginya ketidakpercayaan masyarakat terhadap keberadaan penyakit tersebut.
Sejak wabah terdeteksi pada pertengahan Mei, virus Ebola strain Bundibugyo telah menyebabkan 344 kasus terkonfirmasi dengan 60 kematian di DRC.
Sementara di Uganda, tercatat 15 kasus dengan satu korban jiwa.
“Wabah ini sudah menyebar lebih dulu, dan kita masih tertinggal, tetapi respons yang diberikan semakin mendekati target, dengan pusat-pusat perawatan yang kini telah didirikan di seluruh provinsi Ituri, bagian DRC yang paling terdampak,” kata Tedros, seperti ditulis The Guardian Rabu, 3 Juni 2026.
WHO juga meminta negara-negara yang menerapkan pembatasan perjalanan, termasuk Amerika Serikat, untuk meninjau kembali kebijakan tersebut karena dinilai mengganggu distribusi logistik dan memperlambat penanganan wabah.
Selain itu, pelacakan kontak yang menjadi kunci pengendalian penyebaran penyakit baru mencapai sekitar 45 persen, jauh dari target minimal 90 persen.
Ketidakamanan wilayah dan perpindahan penduduk menjadi tantangan utama.
Tedros menegaskan bahwa peningkatan kapasitas laboratorium, deteksi dini, serta edukasi masyarakat sangat penting untuk menekan penyebaran virus.
Meski belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk strain Bundibugyo, sejumlah pasien di DRC dan Uganda berhasil sembuh setelah memperoleh perawatan medis secara cepat dan tepat.-***













