TERASJABAR.ID – Para pemimpin kesehatan dunia kini tengah mempertimbangkan penggunaan vaksin maupun obat-obatan eksperimental untuk menangani wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo.
Kekhawatiran meningkat setelah Direktur Jenderal World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut penyebaran wabah berlangsung sangat cepat dan dalam skala yang mengkhawatirkan.
WHO mencatat sedikitnya 500 kasus dugaan Ebola dan sekitar 130 kematian sejak wabah terbaru diumumkan.
Jumlah tersebut meningkat tajam dibanding laporan awal yang mencatat sekitar 200 kasus dan 65 kematian.
Sebagian besar kasus ditemukan di Provinsi Ituri, wilayah yang juga dilanda konflik berkepanjangan.
Direktur senior kesehatan International Rescue Committee, Dr. Mesfin Teklu Tessema, mengatakan angka yang tercatat saat ini kemungkinan hanya sebagian kecil dari situasi sebenarnya.
Ia memperingatkan penyebaran ke negara tetangga seperti South Sudan dapat terjadi sewaktu-waktu karena lemahnya sistem kesehatan di kawasan perbatasan.
Tessema juga menyoroti keterbatasan alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan, seperti sarung tangan, masker, dan pelindung mata.
“Ebola merupakan penyakit dengan tingkat kematian sangat tinggi, terutama jika pasien terlambat mendapatkan perawatan medis,” kata Tessema, seperti ditulis The Guardian pada Selasa, 19 Mei 2026.
WHO Kaji Penggunaan Vaksin Eksperimental
Strain virus yang memicu wabah kali ini diketahui merupakan strain Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan resmi.
Para ilmuwan dari Kongo dan Uganda telah mempublikasikan genom virus tersebut dan menemukan indikasi bahwa wabah bermula dari penularan hewan ke manusia sebelum akhirnya menyebar antarmanusia.
WHO kini membentuk kelompok teknis khusus untuk mengevaluasi kemungkinan penggunaan vaksin dan pengobatan eksperimental dalam penanganan wabah.
Meski vaksin Ebola yang tersedia saat ini hanya efektif untuk strain Zaire, sejumlah penelitian tambahan masih terus dilakukan.
Di Uganda, pemerintah mulai menerapkan langkah pencegahan ketat, termasuk imbauan untuk menghindari kontak fisik seperti berjabat tangan dan berpelukan.
Perayaan Hari Martir Uganda yang biasanya dihadiri jutaan orang juga dibatalkan demi mencegah penyebaran virus.
Beberapa negara, termasuk United States, mulai memberlakukan pembatasan perjalanan dari wilayah terdampak, sementara Rwanda menutup perbatasannya dengan Kongo.
WHO menyatakan wabah ini telah ditetapkan sebagai keadaan darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
Tedros menegaskan keputusan tersebut diambil karena penyebaran kasus mulai terjadi di wilayah perkotaan dan di kalangan tenaga kesehatan, yang berpotensi mempercepat penularan virus.-***













