TERASJABAR.ID – Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran hampir tercapai.
Menurutnya, rancangan perjanjian tersebut mencakup sejumlah konsesi besar dari Teheran, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, pembukaan Selat Hormuz bagi lalu lintas internasional, serta penghapusan sebagian program nuklir Iran.
Meski demikian, pejabat tinggi Iran membantah bahwa kesepakatan final telah disetujui.
Mereka menegaskan bahwa proses negosiasi masih berlangsung dan belum menghasilkan kesepahaman resmi antara kedua pihak.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut setelah mengadakan pertemuan selama lebih dari dua jam dengan para penasihat keamanan nasional di Gedung Putih.
Namun, laporan media AS menyebutkan bahwa presiden belum mengambil keputusan akhir terkait dukungannya terhadap rancangan perjanjian tersebut.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyebut Iran harus menjamin tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, mengizinkan akses terhadap uranium yang diperkaya, serta menyetujui sejumlah ketentuan lain yang menurutnya akan memperkuat stabilitas kawasan.
Ia juga mengisyaratkan kemungkinan pencabutan blokade laut terhadap Iran jika kesepakatan berhasil disahkan.
Di sisi lain, pemerintah Iran menilai pernyataan Trump sebagai langkah sepihak.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa pertukaran pesan diplomatik memang masih berlangsung, tetapi belum ada kesepakatan akhir yang dicapai.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menegaskan bahwa pembahasan mengenai pengelolaan Selat Hormuz akan tetap mengikuti prinsip kedaulatan Iran dan hukum internasional.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Teheran tidak berniat menyerahkan sepenuhnya kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Sementara itu, sejumlah pejabat Iran lainnya menolak kemungkinan pemindahan cadangan uranium yang telah diperkaya ke negara lain.
Mereka menegaskan bahwa Iran tidak akan mengorbankan kepentingan strategis nasionalnya dalam proses negosiasi.
Di tengah ketegangan tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance memberi sinyal bahwa peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka.
Namun, sejumlah isu penting, termasuk masa depan program nuklir Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah, masih menjadi hambatan yang harus diselesaikan sebelum perjanjian resmi dapat diumumkan.-***
















