TERASJABAR.ID – Harga minyak dunia kembali melonjak menembus angka 100 dolar AS per barel pada Selasa setelah serangan terbaru United States terhadap Iran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut menghancurkan optimisme pasar yang sebelumnya berharap adanya kemajuan dalam perundingan damai.
Kenaikan harga terjadi setelah AS menyerang lokasi peluncur rudal dan kapal penebar ranjau milik Iran.
Situasi ini kembali meningkatkan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent sempat menembus level 126 dolar AS per barel pada akhir bulan lalu sebelum perlahan turun dalam beberapa pekan terakhir karena pasar berharap konflik segera mereda.
Namun, para analis menilai gangguan pasokan energi yang berlangsung selama beberapa minggu telah mengurangi cadangan minyak global secara signifikan.
Di saat bersamaan, permintaan bahan bakar diperkirakan meningkat memasuki musim perjalanan musim panas.
Sejumlah pengamat pasar memperingatkan bahwa pasar energi dunia kini berada dalam situasi kritis.
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, bahkan menyebut dunia bisa memasuki “zona merah” pada Juli dan Agustus karena konsumsi minyak jauh melampaui produksi.
Penutupan Selat Hormuz juga berdampak besar terhadap produksi minyak di kawasan Teluk.
Sebelum konflik pecah, jalur tersebut menjadi rute pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari. Kini produksi minyak kawasan disebut turun lebih dari 14 juta barel per hari dibandingkan kondisi sebelum perang.
Cadangan darurat minyak memang sempat digunakan untuk menutup sebagian kekurangan pasokan, tetapi stok global dinilai semakin menipis.
Bank investasi JP Morgan memperingatkan bahwa bahkan jika arus pengiriman kembali normal, pasar tetap akan menghadapi kondisi pasokan ketat dengan persediaan yang rendah.
Dampak kenaikan harga energi mulai dirasakan masyarakat.
Di Inggris, harga bensin mencapai level tertinggi sejak konflik Timur Tengah dimulai. Selain itu, tagihan energi rumah tangga diperkirakan meningkat akibat lonjakan harga gas yang dipicu krisis di Selat Hormuz.-***














