TERASJABAR.ID – Usulan kesepakatan damai antara Iran dan United States masih terus dibahas pada Selasa meskipun militer AS kembali melancarkan serangan terhadap target-target Iran.
Serangan tersebut menjadi aksi militer pertama Washington sejak gencatan senjata 8 April dan menyasar peluncur rudal serta dugaan upaya pemasangan ranjau baru di Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam tindakan AS sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata dan menilai serangan itu tidak menunjukkan itikad baik.
Meski demikian, Teheran belum menarik diri dari proses negosiasi yang dimediasi bersama oleh Pakistan dan Qatar.
Militer Iran sejauh ini belum mengumumkan langkah balasan spesifik atas serangan yang menewaskan empat tentaranya.
Sikap tersebut dinilai sebagai upaya menjaga proses negosiasi yang sedang berlangsung agar tidak gagal di tahap akhir.
Ketegangan terbaru itu turut memicu kenaikan harga minyak Brent sekitar 4 persen.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf masih berada di Doha untuk melanjutkan pembahasan terkait pencairan lebih dari 12 miliar dolar aset Iran yang dibekukan.
Selain itu, Iran juga mendorong pelonggaran sanksi ekspor minyak dan petrokimia selama periode negosiasi pembatasan program nuklir mereka.
Kesepakatan sementara yang tengah dibahas juga mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari, sekaligus pencabutan blokade terhadap pelabuhan minyak Iran oleh AS.
Langkah tersebut diharapkan dapat memulihkan aktivitas maritim seperti sebelum perang pecah pada 28 Februari.
Namun, proses menuju perdamaian masih menghadapi tekanan dari kelompok garis keras di Washington, Teheran, dan Yerusalem.
Sejumlah pihak di Iran menolak kesepakatan yang dianggap dapat mengurangi kontrol negara atas Selat Hormuz.
Di sisi lain, pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan keyakinannya bahwa Iran berada di jalur sejarah yang menguntungkan.
Dalam pidato terkait musim haji, ia menyerukan persatuan negara-negara Muslim dan kembali melontarkan kritik keras terhadap Israel serta kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.-***















