TERASJABAR.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran tetap siap melanjutkan konfrontasi militer langsung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel apabila proses negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan bahwa Washington dan Tel Aviv tengah bersiap melakukan serangan udara lanjutan ke Teheran, yang disebut bisa terjadi secepatnya minggu depan.
Di tengah pesan-pesan resmi yang ditujukan untuk audiens domestik maupun internasional, Araghchi juga menekankan bahwa dampak perang AS–Israel tidak hanya dirasakan Iran, tetapi juga berdampak pada masyarakat Amerika.
Ia menyoroti kenaikan biaya energi dan inflasi di AS yang disebut meningkat sejak konflik dimulai pada 28 Februari, serta gangguan pada jalur perdagangan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz, yang biasanya menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Melalui unggahan di platform X, Araghchi menyampaikan bahwa warga Amerika akan terus dibebani biaya perang yang dipilih pemerintah mereka terhadap Iran.
Ia juga memperingatkan bahwa selain kenaikan harga bahan bakar dan fluktuasi pasar saham, dampak yang lebih besar dapat muncul dalam bentuk meningkatnya utang negara, kenaikan suku bunga hipotek, serta melonjaknya tunggakan kredit yang disebut telah mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga ikut menyoroti dampak ekonomi konflik tersebut terhadap warga AS, meskipun dengan gaya yang lebih sindiran.
Ia mengkritik tingginya biaya utang Amerika dan pengeluaran militer yang dinilai tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Sebelumnya, laporan media menyebutkan bahwa AS dan Israel tengah mempersiapkan kemungkinan serangan militer gabungan baru terhadap Iran, yang dapat dimulai dalam waktu dekat.
Sejumlah pejabat mengindikasikan adanya peningkatan kesiapan militer sejak gencatan senjata sebelumnya yang dimediasi pihak ketiga.
Di sisi lain, pejabat Israel menyebut negaranya bersiap menghadapi eskalasi konflik dalam waktu dekat, sembari menunggu keputusan politik dari Washington terkait kelanjutan perundingan dengan Iran.
Sementara itu, pejabat AS juga menyatakan bahwa berbagai skenario, termasuk peningkatan maupun penurunan eskalasi, telah dipersiapkan jika diperlukan.
Presiden AS Donald Trump sendiri menyampaikan bahwa Iran dinilai belum konsisten dalam komitmen perjanjian yang dibahas sebelumnya, termasuk isu terkait pengelolaan uranium yang diperkaya.
Ia menegaskan bahwa beberapa poin kesepakatan sebelumnya kerap tidak diikuti sebagaimana mestinya oleh pihak Teheran.-***
















