TERASJABAR.ID – Pubalgia, yang juga dikenal sebagai athletic pubalgia atau sports hernia, merupakan kondisi nyeri kronis yang terjadi di area selangkangan dan perut bagian bawah, terutama pada atlet.
Walaupun istilahnya mengandung kata “hernia”, kondisi ini tidak selalu disertai tonjolan seperti pada hernia inguinalis.
Cedera ini belakangan menjadi perhatian karena banyak dialami oleh atlet profesional.
Meski tidak sepopuler cedera seperti ACL atau patah tulang, pubalgia dianggap cukup serius karena dapat menurunkan performa secara signifikan dan berpotensi menjadi masalah jangka panjang jika tidak ditangani dengan tepat.
Pengertian Pubalgia
Pubalgia adalah cedera yang melibatkan otot, tendon, atau ligamen di sekitar tulang pubis, yaitu area pertemuan antara otot perut bagian bawah (rectus abdominis dan oblique) dengan otot paha bagian dalam (adductor longus).
Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, namun lebih sering terjadi pada olahraga yang melibatkan sprint, perubahan arah cepat, serta gerakan rotasi, seperti sepak bola, rugby, hoki, dan atletik.
Berbeda dengan anggapan yang beredar, pubalgia bukan disebabkan oleh aktivitas seksual berlebihan.
Secara medis, kondisi ini terjadi akibat tekanan biomekanik dan ketidakseimbangan otot di area panggul.
Gejala Pubalgia
Pubalgia sering sulit dikenali karena gejalanya mirip dengan cedera lain seperti adductor strain, osteitis pubis, atau cedera otot perut.
Gejala biasanya berkembang perlahan dan memburuk saat aktivitas, antara lain:
Nyeri dalam di selangkangan dan perut bawah
Nyeri saat sprint, menendang, gerakan memutar, atau sit-up
Rasa sakit yang menjalar ke paha bagian dalam, perineum, atau area skrotum
Nyeri berkurang saat istirahat tetapi kembali muncul saat berolahraga
Sensasi tertarik atau seperti robekan pada awal cedera
Tanpa pemeriksaan seperti MRI atau USG dinamis, pubalgia sering tidak terdiagnosis dan dianggap cedera ringan, padahal dapat menjadi kronis bila diabaikan.
Penyebab Pubalgia
Secara umum, pubalgia terjadi akibat dua mekanisme utama yang saling berkaitan:
- Cedera otot dan tendon
Tarikan berlawanan antara otot perut bagian bawah dan otot paha dalam menyebabkan tekanan pada tulang pubis, sehingga dapat menimbulkan robekan mikro berulang. - Kelemahan dinding posterior inguinal
Kerusakan jaringan dapat melemahkan area penyangga di selangkangan, sehingga muncul sedikit penonjolan saat mengejan, meski tidak seperti hernia sebenarnya. Kondisi ini dapat memperburuk rasa nyeri.
Faktor risiko lainnya meliputi gerakan eksplosif berulang, ketidakseimbangan otot inti dan paha dalam, kurangnya fleksibilitas pinggul, serta overtraining tanpa pemulihan yang cukup.
Pencegahan Pubalgia
Pencegahan sangat penting terutama bagi atlet yang berisiko tinggi. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:
Latihan penguatan core dan stabilisasi panggul
Latihan fleksibilitas pinggul dan otot paha dalam
Istirahat dan pemulihan yang cukup
Koreksi postur dan biomekanik tubuh
Pengaturan beban latihan secara tepat
Pemeriksaan dini jika muncul nyeri ringan di area selangkangan
Pubalgia bukan cedera yang dapat dianggap ringan karena melibatkan struktur otot dan panggul yang kompleks.
Penanganan sejak awal melalui diagnosis yang tepat dan rehabilitasi terarah dapat mempercepat pemulihan.
Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter olahraga atau fisioterapis sangat disarankan agar mendapatkan penanganan yang optimal.-***











