TERASJABAR.ID – Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan rencana penyelesaian pembangunan jalur pipa minyak baru yang melintasi Selat Hormuz pada tahun depan.
Proyek ini dirancang untuk melindungi ekspor minyak mentah negara tersebut dari risiko gangguan di salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Ketegangan di Selat Hormuz yang saat ini berlangsung, yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dan gas global melalui laut, telah berlangsung hampir 11 minggu.
Kondisi ini memicu lonjakan harga energi internasional serta memberikan tekanan besar pada perekonomian negara-negara di kawasan Teluk.
Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, dilaporkan telah menginstruksikan perusahaan minyak nasional untuk mempercepat proyek yang sebelumnya dirahasiakan tersebut.
Jalur pipa ini ditargetkan mulai menyalurkan minyak dari wilayah daratan UEA menuju pelabuhan Fujairah pada tahun 2027.
Strategi Energi dan Ekspansi Ekspor
Infrastruktur baru ini diproyeksikan dapat menggandakan kapasitas ekspor UEA melalui jalur pipa Habshan–Fujairah yang sudah ada, yang saat ini mampu mengalirkan hingga 1,8 juta barel per hari ke Teluk Oman.
Dengan tambahan ini, UEA akan semakin mampu menjaga kelancaran ekspor minyak meskipun terjadi gangguan di Selat Hormuz.
Proyek ini menjadi sangat krusial setelah Iran memblokir kapal tanker di jalur tersebut pascaserangan yang melibatkan AS dan Israel pada akhir Februari.
UEA dan Arab Saudi menjadi satu-satunya produsen di Teluk yang memiliki jalur alternatif untuk mengekspor minyak tanpa melewati selat sempit itu.
Keputusan mempercepat pembangunan jalur pipa kedua juga muncul tidak lama setelah UEA keluar dari OPEC setelah 60 tahun keanggotaan, yang mencerminkan perbedaan kebijakan dengan Arab Saudi.
Langkah tersebut memberi ruang bagi UEA untuk meningkatkan produksi minyak di masa depan, terutama jika kuota OPEC tidak lagi sesuai dengan rencana ekspansi mereka.
Meskipun kapasitas pasti jalur pipa baru belum diumumkan, proyek ini diperkirakan dapat meningkatkan total kapasitas ekspor melalui jalur pipa hingga sekitar 3,6 juta barel per hari.
Angka tersebut mendekati kemampuan ekspor Arab Saudi, yang saat ini memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari melalui jaringan pipa ke Laut Merah.***
















