TERASJABAR.ID – Militer AS dilaporkan menembaki sebuah kapal tanker minyak berbendera Iran pada Rabu.
Hal itu terjadi hanya beberapa saat setelah Donald Trump mengeluarkan ultimatum baru kepada Teheran agar segera menyetujui kesepakatan penghentian perang atau menghadapi serangan udara yang lebih besar.
Menurut Komando Pusat AS, jet tempur Amerika melepaskan sejumlah tembakan yang disebut berhasil melumpuhkan kemudi kapal tanker tersebut ketika mencoba menembus blokade terhadap pelabuhan Iran.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Strait of Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Trump melalui platform Truth Social menyatakan bahwa operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran dapat dihentikan jika Teheran menerima kesepakatan yang sedang dibahas.
Namun, ia juga memperingatkan bahwa jika negosiasi gagal, serangan baru akan dilakukan dengan “tingkat dan intensitas lebih tinggi”.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel siap menghadapi segala kemungkinan.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuding Washington berusaha memaksa Iran menyerah melalui blokade laut dan tekanan ekonomi.
Laporan media AS menyebutkan Washington dan Teheran sebenarnya semakin dekat menuju kesepakatan awal untuk menghentikan konflik.
Sejumlah pejabat Pakistan juga mengungkapkan bahwa kerangka gencatan senjata sementara kemungkinan dapat tercapai dalam beberapa hari ke depan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz selama masa negosiasi.
Meski demikian, hubungan kedua negara masih dipenuhi ketidakpercayaan.
Iran disebut menolak tuntutan AS terkait ekspor uranium yang diperkaya tinggi, sementara Washington tetap mempertahankan tekanan ekonomi dan blokade maritim.
Ketegangan di kawasan telah memengaruhi pasar global.
Harga minyak yang sebelumnya melonjak akibat ancaman terhadap jalur pelayaran mulai turun setelah muncul harapan akan tercapainya kesepakatan diplomatik.
Para analis menilai baik Washington maupun Teheran masih merasa memiliki posisi tawar kuat sehingga proses negosiasi berjalan alot.
Namun, meningkatnya tekanan ekonomi global dan risiko politik domestik di AS membuat peluang kompromi tetap terbuka dalam waktu dekat.-***
















