TERASJABAR.ID – Harga berbagai kebutuhan di Iran melonjak tajam, sementara jutaan orang kehilangan pekerjaan atau sumber penghasilan akibat perang dengan Amerika Serikat dan Israel yang memperparah tekanan ekonomi.
Pada hari Sabtu, yang merupakan awal pekan kerja di Iran, harga makanan, obat-obatan, kendaraan, perangkat elektronik, hingga produk petrokimia naik drastis dibandingkan pekan sebelumnya.
Kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor seperti salah kelola dalam negeri, kerusakan infrastruktur akibat serangan, sanksi internasional, blokade laut, serta pemadaman internet hampir total yang sudah berlangsung lebih dari dua bulan di Teheran.
Nilai tukar mata uang rial terus melemah hingga mencapai rekor terendah, yakni sekitar 1,84 juta rial per dolar AS di pasar bebas.
Aktivitas jual beli valuta asing pun menurun tajam akibat ketidakstabilan pasar.
Ketidakpastian juga melanda pasar barang lainnya. Pedagang dan pembeli sama-sama ragu mengambil keputusan karena tidak jelas seberapa parah situasi akan memburuk atau apakah pasokan barang akan kembali normal.
Di tengah keterbatasan distribusi, sejumlah penjual menaikkan harga secara drastis.
Sebagai contoh, iPhone 17 Pro Max yang di Amerika Serikat dibanderol sekitar 1.200 dolar AS, dijual hingga hampir 5 miliar rial di Teheran.
Sementara itu, mobil Peugeot 206 kini mencapai harga sekitar 30 miliar rial.
Kendaraan impor bahkan lebih langka dan harganya bisa melonjak lebih dari lima kali lipat dibandingkan di negara tetangga seperti Uni Emirat Arab.
Media pemerintah mengakui adanya kenaikan harga harian, khususnya di sektor otomotif, namun menyebut faktor psikologis dan spekulasi pedagang sebagai penyebab utama lonjakan tersebut.
Di sisi lain, upah minimum bulanan di Iran masih di bawah 170 juta rial atau sekitar 92 dolar AS, meskipun telah dinaikkan 60 persen sejak Maret.
Pemerintah juga memberikan subsidi kebutuhan pokok, namun nilainya kurang dari 10 dolar AS per orang setiap bulan.
Seorang warga Teheran menyebut ketimpangan antara harga dan pendapatan semakin terasa.
Banyak orang kini memilih mengubah uang mereka menjadi aset yang lebih stabil atau membeli barang sebelum harganya semakin tidak terjangkau.
Pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian belum merinci jumlah pekerja yang terdampak.
Namun, berbagai sektor usaha, –mulai dari perusahaan teknologi di Teheran hingga industri baja di Isfahan– dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja.
Dalam pernyataan yang dikaitkan dengan pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei, disebutkan bahwa Iran telah menunjukkan kekuatan militernya di hadapan dunia.
Ia juga menyerukan agar negara mampu menghadapi tantangan ekonomi dan budaya, serta meminta perusahaan menahan diri untuk tidak melakukan PHK.
Meski demikian, pemerintah tetap menyatakan bahwa Iran sedang bergerak menuju kemajuan, di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.-***
















