TERASJABAR.ID – Setelah bertahun-tahun mengalami penangkapan, penghilangan paksa, dan kekerasan terhadap demonstran, sebagian warga di Iran sempat berharap intervensi dari Amerika Serikat dan Israel dapat membantu menggulingkan rezim yang dianggap represif.
Bahkan janji Donald Trump untuk “menyelamatkan” rakyat Iran sempat menumbuhkan harapan di kalangan penentang pemerintah.
Namun setelah dua pekan perang yang menewaskan ratusan orang akibat serangan udara yang menghantam permukiman, toko, depot bahan bakar, hingga sekolah, sikap sebagian warga mulai berubah.
Banyak yang merasa serangan tersebut justru memperburuk penderitaan masyarakat sipil.
Seorang mahasiswa di Universitas Teheran mengatakan ia kini merasa kecewa karena pihak luar dinilai tidak memiliki rencana jelas.
Ia menilai serangan terhadap depot minyak Shahran di Teheran menjadi titik balik yang membuatnya meragukan tujuan perang tersebut, terutama karena infrastruktur sipil ikut hancur.
Sebagian warga juga khawatir Iran akan bernasib seperti Irak setelah invasi AS pada 2003, yang awalnya dijanjikan membawa kebebasan namun berujung konflik berkepanjangan.
Selain korban jiwa, kerusakan juga dilaporkan terjadi pada situs budaya penting seperti Istana Golestan di Teheran dan Istana Chehel Sotoon di Isfahan.
Meski gerakan protes terhadap pemerintah telah lama muncul, sebagian warga kini merasa bahwa rakyat Iran justru terjebak di tengah konflik, menghadapi kekerasan dari berbagai pihak sekaligus.-***













