SEORANG pengusaha, aktivis dan akademisi menyampaikan keprihatinannya atas apa yang dialami Yuddy Renaldi saat ini. Dia mengaku ingin menolong, ingin menghiujat lembaga yang menjebloskannya ke dalam jurang keniscayaan termasuk orang orang yang ikut andil didalamnya. Namun, kata sang aktivis ini apa daya tangan tak sampai, tangan tangan jahat yang memiliki ketebalan kekuatan karena kekuasaan tak bisa sembarang dirobohkan. Yuddy pun akhirnya menjadi korban dengan harus menerima penderitaan lahir maupun batin.
“Saya kenal baik Yuddy. Orangnya ramah, professional dan memiliki integritas tinggi. Saya kenal beliau sejak masih merangkak meniti karir di dunia perbankan. Makanya saya sama sekali tidak percaya ketika KPK menetapkan dia sebagai tersangka. Pasti ada yang salah,” katanya.
Apalagi Ketika mendengar langsung dari Yuddy bahwa dirinya tak pernah merasakan aliran dana dari yang dituduhkan. Rekeninngnya murni terisi uang hasil keringatnya sendiri. Ini sudah dibuktikan oleh penelusuran PPATK yang menyatakan tak ada aliran dana sepeserpun yang berasal dari uang yang disebut sebut sebagai dana non budgeter senilai Rp200 miliaran lebih.
Sebgai profesial murni, Yuddy sudah membuktian bahwa selama memimpin bank bjb, sejumlah penghargaan bergengsi pernah diraihnya. Salah satunya adalah ketika Bank BJB mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih penghargaan dalam ajang internasional Indonesia-Turkiye Global Leaders Business Forum & Award II 2022. Penghargaan yang diperoleh Bank BJB yaitu The Best Global Company 2022 dan The Best Global Leaders 2022 untuk Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi.
Selain itu, Yuddy juga pernah meraih penghargaan dalam Forum Infobank Top 100 CEO and The Next Leader Forum sebagai CEO Of The Year 2022. Dewan juri menilai Yuddy berhasil memimpin Bank BJB sehingga kinerja perusahaan semakin solid, terus tumbuh, di tengah tantangan ekonomi dan disrupsi digital. Yuddy juga dinilai membawa Bank BJB secara konsisten melakukan inovasi, adaptasi, dan pengembangan bisnis.
The Iconomics juga pernah mengganjar Yuddy dengan predikat Best CEO 2023 in KBMI 2 kategori Employees’ Choice pada April 2023. Hal ini menandai kali keempat Yuddy meraih predikat Best CEO di kategori tersebut, sejak 2020 hingga 2023.
Kemudian pada Juni 2024, Yuddy meraih penghargaan Indonesia 10 Top Banker Award 2024, dalam acara 5th Anniversary Indonesia Top Bank Awards 2024 yang diselenggarakan oleh The Iconomics. Bank bjb tumbuh pesat saat dikendalikan Yuddy. Laba pun diraih seperti durian runtuh.
Di bawah komandonya, laba Bank BJB mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Deviden mengalir deras ke pangkuan pemegang saham. Yang lebih utama, karyawan merasakan kebahagiaan, kesejahteraan, dan semangat untuk memajukan bank.
Talenta-talenta muda bergelar master dari universitas prestisius di dalam dan luar negeri berebut ingin bergabung. Saat itu, muncul sebuan bahwa Bank BJB layaknya “Bank Himbara ke-6″—sebuah pujian yang tak ternilai atas kemajuan teknologi IT, digital banking, dan jaringannya yang mendunia.
Namun semua itu mendadak hancur saat KPK menyudutkannya dengan tudingan yang menurut Yudy mengada-ada. “Saya tidak pernah mengambil uang seperserpun dari uang yang bukan hak saya. Saya bukan koruptor, saya tidak pernah korupsi,” ujar Yuddy saa bebincang dengan TerasJabar.id. Saat ini, Yuddy hanya menunggu kepastian pembebasn ar sgala tudingan sekaligus pemrohonan aaf dari lembaga yang menyematkan predikat tersangka pada dirinya.
Wajar saja Yudy berharap demikian karena Maret 2025, ini dia genap setahun sudah berada di pusaran ketidakpastian. Bagi sebagian orang, setahun mungkin hanya putaran waktu yang biasa. Namun bagi Yuddy Renaldi, setahun terakhir adalah perjalanan panjang melalui lembah kekelaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sejak Maret 2025 itulah penderitaan fisik, jiwa, dan batin bertubi-tubi datang. Aset dan harta benda disita dan diblokir tanpa kecuali. Bukan hanya hasil jerih payahnya di Bank Mandiri dan Bank BNI, tetapi juga warisan orang tuanya, bahkan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) hasil kerja di Bank BJB.
Semua disapu bersih. KPK seolah ingin memiskinkannya dengan “show of force”, mengabaikan asas praduga tak bersalah yang semestinya menjadi panglima hukum di negeri ini.
Hidup Yuddy dan keluarganya menjadi memprihatinkan. Di saat seperti ini, yang menopang adalah anak, teman, sahabat, dan saudara yang masih percaya bahwa Yuddy adalah orang jujur. Mereka tahu, Yuddy hidup sederhana, tak bermewah-mewah, menabung untuk masa pensiun.
Berbulan-bulan pemeriksaan bergulir. Saksi demi saksi diperiksa, termasuk Ridwan Kamil dan sejumlah pihak lain, namun, tak satu pun bukti aliran dana sebesar angka fantastis Rp222 miliar yang disebut-sebut merugikan keuangan negara itu ditemukan.
Bahkan, hingga akhir tahun buku 2025, Bank BJB masih membukukan laba sebesar Rp 1,08 triliun. Fakta ini adalah tamparan bagi asumsi adanya kebocoran atau kerugian di bank tersebut. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI pun tak pernah merilis dokumen apa pun yang menyebut adanya kerugian negara terkait kasus ini.
Berkas-berkas di bank, rumah Yuddy, dan tersangka lainnya, termasuk Ridwan Kamil, digeledah berkali-kali. Tak satu rupiah pun uang hasil korupsi ditemukan. Yuddy, yang kini sakit keras akibat tekanan batin bertubi-tubi, hanya punya satu harapan kecil. Bukan ganti rugi materi, bukan pembebasan status. Hanya permohonan maaf.
“Hanya permohonan maaf dari KPK saja sudah cukup baginya untuk memperbaiki nama baiknya sebelum hidupnya berakhir,” ujarnya lirih pada teman-teman yang menjenguknya. ***

















