Oleh: Bagindo Ishak Fahmi
Kemiskinan sering diperlakukan seolah-olah ia adalah keadaan alamiah seperti hujan yang turun atau musim yang berganti. Ia dibahas dalam seminar, dijadikan angka dalam laporan, dan dipakai sebagai bahan pidato yang penuh empati. Namun di balik semua itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur, apakah kemiskinan benar-benar ingin dihapuskan, atau justru dipelihara dalam bentuk yang lebih halus?
Kita hidup dalam sistem di mana akses terhadap sarana produksi sering dikendalikan oleh segelintir kekuatan.
Pupuk dimonopoli, distribusi dikuasai jaringan terbatas, dan pemasaran hasil produksi dikunci oleh mekanisme yang tidak sepenuhnya transparan. Petani tidak hanya berhadapan dengan tanah dan cuaca, tetapi juga dengan struktur yang membuat mereka tetap bergantung. Ketergantungan ini bukan sekadar akibat, ia adalah hasil dari sistem yang bekerja secara konsisten.
Hal yang sama terjadi dalam pendidikan. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pembebasan justru sering menjadi ruang reproduksi kepatuhan. Murid diajarkan menghafal, bukan memahami. Mereka dilatih menjawab, bukan mempertanyakan. Ranking dijadikan ukuran kecerdasan, sementara kesadaran kritis tidak pernah benar-benar menjadi tujuan utama.
Pendidikan tidak lagi menjadi alat untuk membangun manusia merdeka, tetapi menjadi mekanisme seleksi yang diam-diam menormalisasi ketimpangan.
Pendidik dan filsuf pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, pernah menulis, “The oppressed must be their own example in the struggle for their redemption.” Kalimat ini mengandung pesan mendasar, pembebasan tidak diberikan sebagai hadiah, tetapi lahir dari kesadaran. Kesadaran adalah titik awal perubahan, karena tanpa kesadaran, manusia akan menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar.
Selama orang miskin tidak memiliki kesadaran kritis, mereka tidak dianggap berbahaya. Mereka dilihat sebagai objek kebijakan, penerima bantuan, dan bagian dari statistik. Mereka aman karena mereka tidak memiliki daya tawar. Mereka bergantung, dan ketergantungan adalah bentuk kontrol paling efektif.
Namun situasi berubah secara drastis ketika kesadaran mulai tumbuh.
Ketika petani memahami mengapa harga pupuk tidak wajar. Ketika pedagang kecil menyadari bahwa pasar tidak sepenuhnya bebas. Ketika masyarakat mulai melihat bahwa kemiskinan bukan sekadar akibat kemalasan, tetapi hasil dari relasi kuasa yang tidak seimbang.
Pada titik itu, identitas orang miskin berubah. Ia tidak lagi sekadar “masalah sosial”. Ia menjadi subjek yang memiliki kesadaran. Ia mulai bertanya. Ia mulai menolak. Ia mulai mandiri.
Dan kesadaran, dalam sistem yang timpang, selalu memiliki konsekuensi politik.









