(Cerita Sunyi di Balik Penataan Reklame Tanpa Masa Transisi)
Oleh : Mang Gana / Pengusaha Reklame / Warga Bandung
Pagi itu, mang Caca bukan nama sebenarnya berdiri lebih lama dari biasanya di depan bengkel las kecil di pinggir Kota Bandung. Tangannya memegang rokok yang tak kunjung habis, matanya kosong menatap jalan. Sudah hampir dua minggu ia tidak dipanggil kerja. Biasanya, setiap pekan selalu ada proyek rangka reklame: las, pasang, bongkar, lalu pindah ke titik lain. Kini, teleponnya sepi. “Biasana mah mun aya kerjaan reklame , sok aya nu masang gambar, ngelas tihang, ngamenten billboard. Ayeuna mah teu aya nanaon, sarepi” katanya lirih.
Caca bukan pengusaha. Ia bukan pula pengambil kebijakan. Ia hanya satu dari sekian banyak pekerja lapangan yang hidup dari denyut industri reklame. Ketika penataan reklame dilakukan tanpa masa transisi, orang seperti Ujang adalah yang pertama merasakan dampaknya.
Penataan kota memang perlu. Tidak ada yang menyangkal itu. Kota harus tertib, rapi, dan nyaman dipandang. Namun masalah muncul ketika aturan dijalankan tanpa jeda, tanpa persiapan, tanpa memberi waktu bagi mayoritas yang hidup dari sektor tersebut untuk menyesuaikan diri. Di situlah kebijakan yang niatnya baik, berubah menjadi guncangan sosial yang nyata.
Di balik setiap papan reklame, ada rantai pekerjaan yang panjang. Tukang las, teknisi listrik, sopir crane, pekerja bongkar pasang, hingga buruh harian yang dibayar per proyek. Mereka bekerja bukan dengan gaji tetap, melainkan dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya. Ketika izin berhenti mendadak dan titik reklame harus diturunkan serentak, pekerjaan ikut hilang seketika.
“Kalau proyek berhenti, ya kami berhenti makan,” ujar Hendra, pekerja lapangan lainnya. Tidak ada nada berlebihan dalam suaranya. Hanya kalimat pendek yang terdengar biasa, tapi berat maknanya.
















