Syaefudin Simon | Kolumnis Satupena Jakarta
Pemerintah kembali menepuk dada. Indonesia, kata para pejabat, adalah salah satu negara dengan rakyat paling bahagia di dunia.
Entah survei apa yang dipakai, entah definisi bahagia versi siapa. Yang jelas, kebahagiaan itu tampaknya tidak mampir ke dapur rakyat yang panci nasinya kian sering kosong.
Di berbagai daerah, kasus bunuh diri karena himpitan ekonomi muncul seperti bisik-bisik yang enggan didengar negara. Orang mengakhiri hidup bukan karena patah hati, melainkan karena tak punya uang membeli makanan.
Ini bukan metafora, melainkan laporan polisi. Di negeri yang katanya bahagia, lapar telah menjadi tragedi personal, bukan lagi urusan publik.
Pengangguran terus bertambah. Anak muda berijazah menunggu kerja seperti menunggu hujan di musim kemarau. Pabrik merumahkan buruh, sektor informal tercekik, sementara lapangan kerja baru lebih sering hadir dalam bentuk jargon ketimbang realitas.
Negara sibuk merayakan angka pertumbuhan, rakyat sibuk menghitung utang di warung. Pasar-pasar desa yang dulu riuh kini sunyi. Lapak kosong, pembeli jarang, pedagang menatap waktu dengan pasrah.
Daya beli rontok pelan-pelan, seperti daun kering jatuh satu per satu. Ini bukan akibat rakyat malas, melainkan karena uang memang tidak beredar. Ekonomi desa dibiarkan kurus, sementara pidato pembangunan terdengar gemuk dan berlemak.
Di tengah situasi itu, negara menggelontorkan anggaran jumbo untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Niatnya mulia di atas kertas, tapi dampaknya membuat negara makin miskin akal sehat. Anggaran pendidikan disunat demi memberi makan, seolah sekolah dan gizi harus dipertentangkan.
















