TERASJABAR.ID – Kasus dugaan penipuan kerja kembali menimpa 18 warga Jabar. Enam orang diantaranya warga Kec. Pangalengan, Kab. Bandung. Mereka semua kini telantar di Papua. Kasus penipuan kerja ini setelah menerima tawaran pekerjaan yang diduga tidak sesuai dengan kenyataan. Jeritan mereka ini, kini viral di media sosial (medsos).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para korban mengaku awalnya direkrut untuk bekerja sebagai tenaga proyek bangunan dengan iming-iming penghasilan yang menjanjikan. Namun, setibanya di lokasi, mereka justru diarahkan untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit tanpa kejelasan kontrak maupun sistem kerja.
Kondisi tersebut menunjukkan setelah beredarnya video pengakuan korban di grup WhatsApp. Dalam rekaman itu, para korban terlihat menyampaikan kondisi yang memprihatinkan mereka, termasuk keterbatasan logistik dan tempat tinggal.
“Kami diiming-imingi kerja proyek , tapi malah ditelantarkan di kebun sawit,” ujar salah satu korban dalam video yang beredar.
Dalam video lain, seorang pria mengaku berasal dari Pangalengan dan menyampaikan permohonan bantuan. Ia menyebut saat ini mereka berada di wilayah Bopul, Papua, dan terpaksa bertahan dengan kondisi seadanya.
“Assalamualaikum, warga Pangalengan, Kabupaten Bandung Jabar saat ini saya di Papua dalam keadaan terlantar. Kami tidur di gedung sekolah,” ujarnya.
Keterangan tersebut memicu perhatian netizen, terutama keluarga korban dan warga Kab. Bandung. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil langkah-langkah konkret demi keselamatan para korban serta memfasilitasi pemulangan mereka.
Berdasarkan data sementara, dari total 18 orang korban, enam di antaranya berasal dari Kec. Pangalengan. Mereka diketahui berasal dari sejumlah desa, seperti Margamulya, Banjarsari, dan Wanasuka. Identitas korban yang telah terkonfirmasi antara lain Asep Hermawan, Lucki Rustandi, Iyep Rohman, Ahmad Sarip, Andi Sopandi, dan Taupik R. Adinata.
Jumlah korban masih bertambah seiring proses pendataan yang terus dilakukan. Dugaan adanya jaringan perekrut tenaga kerja ilegal pun mencuat, mengingat pola ancaman yang menjanjikan pekerjaan proyek namun berakhir pada penempatan yang tidak sesuai.
Desakan publik terus menguat agar pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan.
Di tengah kondisi yang dihadapi, para korban menyampaikan harapan sederhana: dapat kembali ke kampung halaman.
“Saya minta bantuannya, kami ingin pulang. Kami semua warga Jawa Barat,” ujar salah satu korban.
Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan, khususnya di luar daerah.
Verifikasi terhadap legalitas perusahaan, kejelasan kontrak kerja, serta identitas perekrut menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Sementara itu, Camat Pangalengan, Vena Andriawan, S.STP, M.Si. ketika dikonfirmasi via telepon membenarkan dari 18 warga Jabar, 6 orang di antaranya warga Pangalengan, jadi korban dugaan penipuan kerja yang kini telantar di Papua. “Kami sudah tindaklanjuti dengan berkoordinasi dengan dinas terkait. Termasuk dengan Pemprov Jabar karena ini lintas provinsi,” katanya.*














