Dan kami—di ujung lautan, menatap layar ponsel dengan senyum yang samar—mulai bertanya pada diri sendiri:
Sebegitu pentingkah kehadiran Presiden dalam HPN?
Ataukah, sejujurnya, sebegitu pentingkah kehadiran Presiden bagi PWI?
Bagi saya pribadi, ketika Presiden tidak hadir di HPN 2025 namun tetap mengingat Hari Pers Nasional, hati justru mengucap syukur. Negara ini punya Presiden yang masih menaruh perhatian pada pers, meski tidak hadir di panggung utama. Bahkan menyelipkan pesan persatuan di tengah hiruk-pikuk perpecahan.
Dan ketika Presiden kembali tidak hadir di HPN 2026 karena memilih memimpin rapat strategis TNI–Polri, entah mengapa rasa syukur itu kembali hadir. Presiden memilih bekerja mengurus negara ketimbang menghadiri seremonial belaka. Bukankah itu yang selama ini kita tuntut dari seorang pemimpin?
Lalu muncul satu pertanyaan yang lebih sunyi:
Mengapa pada HPN 2026 Presiden tidak menyampaikan ucapan selamat secara rekaman seperti tahun sebelumnya?
Inilah misteri yang barangkali hanya diketahui oleh Presiden dan Tuhan.
Namun di relung hati yang paling dalam, sebagai seseorang yang namanya pernah tercatat sebagai panitia HPN 2025, saya hanya bisa tersenyum. Ucapan selamat yang tulus—meski tanpa kehadiran—adalah bentuk perhatian yang nyata.
Dan ketika perhatian itu datang, walau lewat layar dan kata-kata, rasanya cukup untuk berkata:
“Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?”
















