Oleh : Mustiar Ar | Penulis
Yang Terhormat
Bapak Presiden Republik Indonesia
H. Prabowo Subianto
Salam hormat dari Aceh,
Surat ini datang dari tanah yang pernah melahirkan Teuku Umar— seorang johan pahlawan yang paham, bahwa membaca keadaan sering kali lebih penting
daripada sekadar menunjukkan kekuatan.
Bapak Presiden,
Beberapa hari terakhir, air turun dari hulu dengan tergesa.
Ia tidak datang sendiri, melainkan membawa kayu, tanah, dan sisa-sisa dari apa yang pernah disebut penyangga kehidupan.
Rumah-rumah rakyat kecil terdiam.
Dapur-dapur dibersihkan dari lumpur.
Dan sungai kembali mengingatkan, bahwa ia tidak pernah lupa cara manusia memperlakukannya.
Aceh memahami alam seperti memahami sejarah:jika terlalu lama diabaikan, ia akan berbicara dengan caranya sendiri.
Teuku Umar dahulu tak pernah melangkah
tanpa membaca medan.
Hari ini, medan itu bernama hutan, sungai, dan gunung— yang terlalu sering dibaca di atas kertas, namun jarang didengar suaranya.
Bapak Presiden,
Saya sebagai seniman kampung Aceh berharap Aceh segera pulih, bukan hanya dari lumpur yang mengering di lantai rumah, tetapi dari luka panjang akibat kelalaian yang terus berulang.
Negara kiranya tidak hanya hadir melalui angka dan laporan, tetapi juga melalui kepekaan— mendengar jerit alam, membaca tanda-tanda dari rakyat kecil, dan menjadikan kebijakan sebagai bentuk tanggung jawab, bukan sekadar administrasi.
Rakyat tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya berharap negara hadir sebelum air naik,
bukan sekadar setelah jejaknya mengering.
Kepemimpinan yang kuat bukan hanya menata kekuasaan, tetapi menata hubungan manusia dengan alamnya— agar yang kecil tidak selalu menjadi korban dari keputusan yang terlalu jauh dari tanah.
Surat ini tidak berteriak. Ia hanya pengingat halus dari tanah sejarah: bahwa menjaga rakyat berarti juga menjaga ruang hidup mereka.
Kiranya amanah besar ini selalu menemukan jalannya pulang— kepada rakyat,
dan kepada tanggung jawab. (*)
Hormat kami,
Mustiar Ar adalah seniman kampung dan penulis asal Aceh Barat, Meulaboh. Penyandang disabilitas yang bekerja sebagai tukang parkir ini menulis puisi, cerpen, dan opini bertema sosial, lingkungan, dan kemanusiaan.
Karyanya bergaya satire santun, elegan, berani, lahir dari suara orang kecil dan pengalaman hidup sehari-hari, serta konsisten merawat ingatan Aceh kolektif. /hati pena


















