TAK BISA DIJADIKAN TUMPUAN
Ramadhan 1447 ini membuat masyarakat pers tidak hanya menahan hawa nafsu, menahan haus dan lapar, juga harus meningkatkan kesabaran atas kondisi kehidupan yang penuh dengan keprihatinan. Yang jelas, bisnis pers tidak lagi dapat dijadikan tumpuan kehidupan. Sudah memasuki memasuki era senja sekali.
Tetapi individu pers tetap bisa hidup sejauh memiliki bekal cukup, kompetensi memadai, jejaring baik, dan tidak terperangkap dalam nostalgia.
Ketika dulu masuk Kompas tahun 1984, saya sempat ditanya Wakil Pemred, P Swantoro, sebab dalam CV saya tulis masihmengajar di sejumlah perguruan tinggi. “Di sini boleh merangkap menjadi guru, atau dosen, asal tidak mengganggu pekerjaan. Saya dan Pak Jakob juga dulu guru.” Saya senang karena peluang terbuka, meskipun lalu mengajar tidak saya teruskan karena tugas ke lapangan yang mondar-mandir, bikin badan capek kalau harus mengajar.
Tetapi ada beberapa teman yang juga aktif mengajar dan ini sangat berguna untuk memperluas wawasan dan cakrawala wartawan yang pengetahuannya selalu harus diupdate. Saya pun melihat banyak wartawan yang menjadi dosen, yang tentu bisa dilanjutkan kalau kena PHK. Mereka ini telah menyiapkan sekoci, kemampuan tambahan, yang berguna tidak hanya untuk menambah ilmu tetapi cadangan pekerjaan.
Saya juga merasa bangga sempat diundang menghadiri promosi doktor teman-teman pengurus PWI di Bandarlampung, Palembang, Bengkulu. Bahkan pidato penetapan Guru Besar teman yang pernah meliput bersama, di Jakarta. Pencapaian yang seharusnya dilakukan wartawan ketika ada kesempatan. Banyak sekali wartawan yang sudah bergelar doktor dan ahli sehingga tenaga mereka dibutuhkan lembaga pendidikan tinggi.
Mereka ini yang tidak akan terlalu risau dengan PHK. Sudah ada lahan pekerjaan yang justru mungkin lebih mulia di mata masyarakat saat ini, menjadi dosen tetap. Dibanding citra pekerja pers yang semakin negatif akibat orang-orang yang menyebut diri wartawan tetapi tindakan dan sikap mereka jauh dari kode etik jurnalistik, yang tidak mencerminkan intelektualitas sebagai salah satu ciri wartawan.
Bagi yang masih setia dengan profesi kewartawanan, mari terus berjuang, mencari celah yang mungkin makin sempat. Walau tidak berada dalam sebuah lembaga pers yang mapan. Tetap kreatif dan terus belajar. Mereka yang bertahan bukan yang paling kuat, tetapi yang paling adaptif terhadap kemajuan yang terus terjadi. Menyesuaikan diri tanpa merusak reputasi. Tidak berakhir dengan keburukan. Insya Allah mereka yang telah dididik dengan disiplin dan tanggungjawab moral, selalu siap menghadapi segala cobaan.
Wallahu a’lam bhisawab.
Ciputat 17 Februari 2026
















