Rais dan Udin terdiam. Mbah Kawi melanjutkan. “Apalagi kata ‘Puasa’. Itu dari bahasa Sanskerta, Upavasa. Upa itu dekat, Vasa itu Yang Maha Agung. Jadi puasa itu artinya mendekat ke Tuhan yang maha agung lewat keheningan. Orang Timur itu kalau mau dekat Tuhan ya diam, untuk mawas diri, mulat sarira, menengok ke dalam lubuk hati yang terdalam!”
Mbah Kawi menyaksikan Pak Rais dan Samsudin yang beberapa kali mencuri pandang ke arah istri Pak RT yang sedang menjemur baju di seberang jalan. Pak Rais dan Samsudin buru-buru memalingkan muka, tapi mata mereka sempat “traveling” menyusuri daster tipis bu RT.
“Nah! Itu contohnya,” goda Mbah Kawi, “Katanya puasa, tapi rohani masih gampang terguncang sama daster. Kalau puasamu benar, batinmu jadi jernih, penuh empati, dan nggak gila penghormatan!”
“Berarti saya belum puasa ya, Mbah?” tanya mereka malu-malu.
“Mungkin kamu baru taraf ‘Kaum Berisik’. Puasa yang isinya cuma pamer kesalehan tapi kelakuan tetap korupsi kecil-kecilan, tetap ghibah, dan tetap rakus pas buka puasa. Itu namanya ritual munafik berseri,” pungkas Mbah Kawi tegas.
Udin dan Pak Rais saling berpandangan. Tiba-tiba suara toa masjid kembali membahana dengan volume maksimal, padahal waktu salat masih tiga jam lagi.
“Din…” sahut Pak Rais.
“Ya, Pak?”
“Tolong kecilkan volume suara toa masjid!”
Mbah Kawi tersenyum lega, “Dan kecilkan volume hatimu juga, biar nggak gampang ‘kesurupan’ lihat bakwan jagung dan daster tipis!”















