Oleh Tri Handoyo
Cak Opik memang menutup warungnya di siang hari selama Ramadan, tapi secara rahasia ia tetap melayani pelanggan yang loyalitasnya tak diragukan lagi.
Siang itu, di saat matahari sedang lucu-lucunya. Pak Rais duduk sambil selonjor di depan warung yang tertutup rapat. Wajah tuanya tampak sepucat kertas tisu yang habis kehujanan. Di depannya, ada si Samsudin, pemuda yang dikenal paling vokal kalau urusan ‘menertibkan’ orang lain saat bulan Ramadan.
“Aduh Din, pusing kepalaku. Ada yang bilang warung Cak Opik kok masih buka. Untungnya itu tudak benar. Imanku langsung tremor, rasanya mau kesurupan kalau lihat bakwan jagung Cak Opik,” keluh Pak Rais sambil memegang perutnya yang sebenarnya makin membuncit sejak hari pertama puasa.
Samsudin mengangguk mantap, “Betul Pak! Memang semua warung harusnya tutup total! Orang jualan makanan dan minuman di siang hari itu artinya nggak menghormati kita yang berpuasa, yang sedang berjuang menegakkan iman!”
Kebetulan, Mbah Kawi lewat. Orang tua yang dikenal sebagai “pakar filosofi dadakan” di kampung itu ikut istirahat di depan warung. Ia menatap perut Pak Rais dan perut Samsudin yang makin gendut, lalu menatap toa masjid yang dari tadi pagi tidak berhenti berkumandang.
“Kalian ini lagi puasa apa lagi karnaval?” tanya Mbah Kawi enteng.
“Ya puasa lah, Mbah! Ibadah!” sahut Samsudin sedikit tersinggung.
Mbah Kawi terkekeh. “Kalau cuma nggak makan-minum tapi pengeluaran belanja malah naik tiga kali lipat, itu namanya bukan puasa, tapi cuma pindah jam makan. Kalau kamu liat warung buka langsung kejang-kejang, berarti imanmu setipis kulit bawang dikupas tujuh!”
Mbah Kawi duduk di lincak menghadap mereka berdua. “Begini lho, Rais, Din. Tokoh agama saja sering rancu. Dalam Al-Quran, ada kata Shiyam yang artinya memang menahan makan, minum, dan syahwat. Tapi ada juga Shaum.”
“Bedanya apa, Mbah?” Pak Rais penasaran.
“Lihat Surat Maryam ayat 26. Shaum itu artinya diam. Neng-hening. Tidak bicara sama manusia. Nah, coba lihat masjid kita sekarang. Dari subuh sampai menjelang tengah malam berisik pakai toa. Katanya Shaum, tapi kok kayak lomba teriak?”















