Advertisement

Kisah Dua Alumni UI Bantu Produksi Baju Hazmat Untuk Tenaga Medis: Berawal dari Curhatan

Kisah Dua Alumni UI Bantu Produksi Baju Hazmat Untuk Tenaga Medis: Berawal dari Curhatan
Dok Foto Pribadi Informasi soal alat pelindung diri (APD)
Editor: Malda Teras Health —Kamis, 26 Maret 2020 13:08 WIB

Terasjabar.id - Berawal dari curhatan, dua alumni Universitas Indonesia (UI) bantu produksi alat pelindung diri (APD) berupa baju Hazmat untuk tenaga medis.

Di tengah pandemik virus corona, bukan saja masker dan hand sanitizer yang menjadi barang langka.

Rupanya APD juga menjadi barang yang sulit di dapat. Padahal APD sangat dibutuhkan oleh tenaga medis yang saat ini ada di garda terdepan.

Mendengar dan mengetahui cerita dari sejumlah teman yang berada di garda terdepan, Rina Mardiana (28) lulusan Ilmu Keperawatan UI dan Maryati Dimursi (30) lulusan Sastra Indonesia UI tergerak untuk melakukan sesuatu untuk bisa membantu mereka.

"Kebetulan, aku dan Rina satu alumni dan juga satu organisasi (Mapala UI) ketika kuliah dulu. Semua berawal dari kekhawatiran kami tentang teman teman kami yang bekerja di Rumah Sakit. Mereka menggunakan APD yang seadanya bahkan ada yang menggunakan plastik sebagai pengganti APD" kata Maryati kepada TribunJakarta.com, Kamis (26/3/2020).

"Mereka sedih, takut tertular karena kurangnya APD, tapi disisi lain ini merupakan tugas mereka untuk ada di depan menolong para pasien," lanjutnya.

Hal itulah yang mendorong keduanya untuk membuat baju hazmat sebagai bentuk bentuk solidaritas kepada teman-teman medis.

"APD itu terdiri dari apa saja? Fokus carinya di mana?," tanya Maryati kepada temannya kala itu.

Akhirnya setelah mengetahui sejumlah hal penting, Maryati menghubungi Rina dan mengajak untuk membuat campaign #UrunanProduksi.

"Fokus dari #UrunanProduksi adalah mengajak orang-orang untuk membantu kami memproduksi Baju Hazmat," ungkap Maryati.

"Pas Mery (panggilan Rina ke Maryati), ngajakin, aku mau. Ini sebenarnya kayak spontanitas karena kita punya teman yang backgroundnya sama yakni di garda terdepan dan tahu cerita mereka seperti apa," ungkap Rina.

Selanjutnya, keduanya mulai fokus untuk riset bahan apa yang kira-kira mendekati untuk dipakai sebagai pengganti baju hazmat.

Tentunya harus yang lebih baik dari jas hujan plastik dan bentuknya mendekati yang standar.

"Ini juga kita hati-hati banget. Kita riset sana sini dan cari rekomendasi sama orang yang ahli. Sampai akhirnya diberikan rekomendasi soal bahan baju hazmat itu. Jadi kita pakai bahan non woven laminated," jelas Maryati.

Pada produksi pertama, sekitar 50 baju hazmat sedang diproduksi oleh mereka dengan menggandeng sejumlah konveksi rumahan di sekitaran Depok.

Pada awalnya, produksi tersebut menggunakan dana pribadi. Namun kemudian mulai banyak yang menyumbang atas nama pribadi atau organisasi.

Konveksi rumahan dipilih mereka dengan alasan bisa diambil harian dan bisa mengatur atau mengkordinasikan perihal jumlahnya.

"Kalau setiap konveksi bisa menghasilkan 20 baju hazmat setiap hari, jika kami bisa menggaet 10 konveksi saja, maka setiap harinya ada 200 baju yang bisa kami distribusikan. Ini bisa jadi pengganti sementara menunggu pasokan APD dari pemerinta," jelas Maryati.

Open donasi

Merasa gerakan #UrunanProduksi sebagai hal yang baik. Akhirnya pada Selasa (24/3/2020) keduanya memutuskan untuk mempublikasi apa yang mereka lakukan melalui media sosial.

Tujuan utama dari gerakan ini sebetulnya ingin mengajak teman-teman untuk memproduksi baju hazmat. Hal ini lantaran APD yang semakin terbatas di Rumah Sakit dan paramedis mengandalkan jas hujan sebagai perlindungan diri.

"Minggu ini target kita 300 baju hazmat. Itu adalah jumlah yang berhasil kami kumpulkan dari Donasi. Dari jumlah tersebut akan didistribusikan ke sejumlah RS yang membutuhkan." kata Maryati.

"Saat ini kita masih mencari pihak ketiga untuk memberikan informasi valid perihal RS mana saja yang menjadi prioritas dan benar-benar membutuhkan APD," sahut Rina.

"Sekarang cuma ini yang bisa kami lakukan. Mengajak semua orang untuk urunan membantu produksi. Beberapa teman juga sudah bergabung membantu kami. Teman-teman yang punya brand atau konveksi, mereka mulai bergerak juga dalam pengadaan APD ini” jelas Maryati

Gerakan #urunanproduksi yang kami jalankan bersama ini semoga bisa membantu tenaga medis dan menggerakan teman teman yang juga punya industri di bidang kreatif lainnya untuk sama sama bergerak tapi tetap bertanggung jawab," tambahnya.

"Kita sama-sama pengen ngajak temen temen yang bergerak di industri sejenis lainnya, untuk membantu #urunanproduksi kebutuhan tenaga medis. Saat ini kami cuma bisa menggerakan dan mengkoordinir tenaga konveksi untuk bikin baju hazmat. Melakukan yang dibisa aja," sambung Rina.

Saat ini terhitung sudah ada lima konveksi rumahan yang melakukan kerjasama dengan standar yang di sesuaikan.

Nantinya biaya yang terkumpul dari open donasi hanya akan digunakan untuk pembelian materil, biaya penjahit dan kebutuhan distribusi.

"Kami berharap sedikit yang kita lakukan ini berguna buat yang bekerja di Rumah Sakit," sahut mereka berdua bergantian.

(Tribunjakarta.com)

Virus Corona Baju Hazmat Alumni UI Tenaga Medis


Related Post



Loading...