Advertisement

Taufik Pedagang Pisgor Nombok Disaat Pandemi Covid-19

Taufik Pedagang Pisgor Nombok Disaat Pandemi Covid-19
Editor: Epenz Teras Kuningan —Selasa, 16 Maret 2021 15:05 WIB

Kuningan, Terasjabar.id - Pedagang Pisang Goreng (Pisgor) dan Aci goreng khas Tegal Jawa Tengan ini, terdampar di atas trotoar jalan Siliwangi Kuningan Jawa Barat sejak 12 tahun silam tepatnya sejak awal tahun 2009.

Adalah mas Taufik (40) wong Tegal ini, awalnya jualan pisang mentah dari pasar yang satu ke pasar lainnya di kawasan Tegal dan wilayah pasar Cirebon.
Jualan pisang mentah ini ditekuninya sejak bujangan bersama orang tuanya. Namun setelah menikah saya ingin hidup mandiri dan mencoba belajar mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istri tercinta, tutur Ayah dari tiga anak ini saat diwawancarai disela-sela kesibukannya melayani pembeli, Sabtu (13/03-2021).


Dengan modal membeli gerobak dorong kuwali besar, kompor dan perlengkapan lainnya, "saya bismillah jualan pisang Saba goreng dan Tahu khas Tegal" di kota Kuningan, ujar Taufik berkisah. Pisgor jenis pisang Saba ini dibalut dengan tepung terigu, sehingga memiliki rasa yang khas apalagi camilan ini dimakan sambil ngopi, ujarnya.


Bahan baku pisang Saba tak begitu sulit, karena selalu dipasok dari Pekalongan, Purwokerto, Batang. Ajibarang dan Banyumas. Bahkan pohon pisang jenis Saba ini, banyak ditanam di daerah Sumatera, papar dia.


Alhamdulillah dari hasil jualan 'pisgor' dan Tahu Tegal ini, saya bisa menafkahi Istri membiayai anak-anak sekolah dan membayar kontrak rumah di blok Ciasem Kuningan Rp 750 ribu/bulan, tutur dia.


Sementara itu, sejak merebaknya virus Covid-19 hingga saat ini omzet penjualan menurun drastis akibat terdampak pandemi. Bahkan nombok disaat pandemi lantaran anjlok 60 %, keluhnya.


Biaya pengeluaran besar tak sebanding dengan pemasukan, imbuh dia. Menurunnya omzet penjualan ini, dirasakan oleh sesama PKL jajanan tradisional Lainnya. Akibat daya beli masyarakat memprihatinkan.

Gambar

(Taufik pedagang Tahu Tegal dan Pisgor Saba, saat menunggu pembeli di tepi trotoar Jl Siliwangi Kuningan)


Sejak bulan Maret hingga akhir Desember 2020 silam. Barang dagangan praktis sepi pembeli, bahkan jauh menurun jika dibanding sebelum ada Covid-19.
Sebelum pandemi, alhamdulillah omset penjualan tiap hari selalu 'laris manis' dan mencukupi kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak dan kebutuhan lainnya. Pukul rata penghasilan Rp 400 ribu/hari, bahkan hari Minggu saat "Car Free Day" bisa mencapai Rp 700 ribu lebih, ungkap Taufik.


Jajanan pisgor Saba dan Tahu Tegal ini banyak disukai oleh berbagai kalangan. Harganya murah meriah dan terjangkau, Ujar dia promosi.


Saya benar-benar terdampak, hampir 9 bulan selalu nombok untuk biaya hidup. Bantuan paket sembako yang dinanti pun tak kunjung tiba, apalagi bantuan langsung tunai sama sekali tak ada yang peduli sama keluarga saya, keluh dia.


Memasuki awal tahun 2021, situasi jualan 'pisgor' mulai membaik, ujarnya.


Mudah-mudahan kembali normal dan pandemi Covid-19 segera berakhir, harap dia. (H WAWAN JR)

Pedagang Pisgor Aci Goreng Khas Tegal Jateng Pandemi Covid-19 Jabar Prokes


Loading...